
LOMBOK TENGAH (KabarBerita)-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dihajatkan untuk memperbaiki dan peningkatan gizi generasi emas Indonesia menyosong 2045 mendatang.
Oleh sebab itu, Anggota DPRD Kabupaten Lombok Tengah, TGH. Mustamin Haffi mengajak masyarakat menyambut baik program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah digecarkan pemerintah pusat hingga kepelosok desa. “Alhamdulillah program ini (MBG), program strategis bapak Presiden Prabowo yang luar biasa,”kata TGH. Mustamin sapaan akrab politisi Partai Gerindra saat ditemui KabarBerita dikediaman pada Minggu (25/01/2026) sore.
Meski disadari bahwa dalam pelaksanaan program MBG masih terjadi masalah dilapangan. Namun, menurutnya, azaz manfaatnya dari program ini jauh lebih besar dari sekedar masalah teknis dilapangan. Apalagi terus dilakukan perbaikan-perbaikan setiap hari. “Sampai hari ini terus dilakukan perbaikan-perbaikan, kalaupun terjadi hal-hal yang kita tidak dinginkan, kemukinan (pengelola SPPG) tidak menjalankan aturan dengan baik,”ujarnya
Soal pro kontra pandangan masyarakat terkait program MBG, ada yang setuju dan tidak setuju, kata TGH Mustamin, hal yang wajar, apalagi ini program baru dijalankan pada awal kepemimpinan Presiden Prabowo, sebab apapun kebaikan yang dilakukan pasti ada namanya pro dan kontra, baik yang setuju atau tidak setuju. “Apapun kebaikan yang kita lakukan, pasti ada saja yang setuju atau tidak. Pro kontra itu pasti, disinilah tugas kita bersama untuk menginformasikan pentingnya MBG ini,”katanya seraya mengajak.
Program MBG yang dicanangkan Presiden Prabowo bukan jangka pendek, tapi program jangka panjang. Sehingga dibutuhkan kebersamaan dalam menyukseskan program tersebut. “Yang dituju oleh bapak Presiden Prabowo itu, bukan setahun, dua tahun sekarang ini. Tapi beliu inginkan supaya masa ke emasan Indonesia 2045 itu terwujud dengan anak-anak yang bergizi,”sembungnya seraya mengingatkan masyarakat penting program ini untuk jangka panjang bagi generasi.
Ia berpandangan, bahwa masyarakat atau orang tua yang tidak setuju dengan program MBG ini kebanyak tergolong orang mampu atau kaya. Namun mereka tidak sadar masih banyak yang sangat membutuhkan program MBG. “Kebanyak yang tidak setuju, wali santri atau orang tua itu, kebanyak orang kaya. Pasti orang kaya, karena memang mereka sudah mampu lebih pada itu. Tapi mereka tidak sadar bahwa banyak anak-anak yang tidak sarapan dari rumahnya karena ketidak mampuan, hanya makan kadang-kadang pakai garam. Masih banyak itu, ini yang kebanyak senang dengan MBG. Jadi kalau mau buat orang puas semua itu mustahil,”ujarnya.
Lebih lanjut, TGH, Mustamin menjelaskan bahwa, dalam pelaksanaan program MBG yang diterapkan oleh SPPG selaku pengelola sudah ada aturan-aturan yang ditetapkan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menjamin kualitas makanan sehat dan bergizi bagi penerima manfaat. “Karena aturan-aturan yang diberikan oleh BGN itu sudah sangat sistematis yang sangat luar biasa. Tidak ada jalan kita sebenarnya akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti keracunan, pengurangan, karena sudah diberikan aturan yang sudah saling berkaitan. Jadi tidak ada celah SPPG berbuat yang tidak-tidak,”jelasnya seraya membagi pengalaman dalam mengelola SPPG miliknya.
Dengan aturan yang ketat yang diterapkan oleh pemerintah pusat dalam pengelolaan SPPG, TGH. Mustamin menegaskan, bahwa terkait angkapan soal menu MBG yang dikurangi dari ketentuan yang ada, perlu masyarakat diberikan pemahaman soal pengelolaan dapur SPPG. Dimana SPPG dikelola oleh tenaga-tenaga professional, mulai dari Kepala SPPG, Ahli Gizi, Akuntan, Mitra yang saling bekerjasama dalam memastikan menu MBG yang disajikan sesuai dengan ketentuan yang ada. “Jadi sulit terjadi pengurangan-pengurangan. Kalaupun ada itu mungkin harga (bahan) mahal, ini yang perlu kita informasikan kepada masyarakat,”tegasnya.
Terlebih dalam pengawasan program ini, kata TGH, Mustamin, semua ikut terlibat baik dari unsur TNI/Polri, Dinas Kesehatan serta sekarang ditembah dari Satgas MBG yang ditunjuk dari kabupaten. Sehingga setiap hari terus dilakukan pengawasan yang dilakukan pihak-pihak tersebut guna memastikan pelaksanaan program MBG ini dapat dijalankan sesuai aturan. “Jadi setiap hari itu ada saja bentuk-bentuk pengawasan yang sangat intens dilakukan pemerintah untuk menjaga kualitas,”tambahnya.
Bahkan sekarang ini, katanya, salah satu contoh dalam pengunaan air SPPG diwajibkan air harus dilakukan filter, kemudian soal libah tidak diperbolehkan dibuat sembarangan yang dapat mengganggu masyarakat sekitar. “Pokoknya hal-hal yang merusak kualitas makanan semua sudah diatur oleh pemerintah. Jadi tidak ada jalan akan terjadi hal-hal seperti itu. Tapi namanya manusia tidak ada yang sempurna, terkadang terjadi di satu, dua tempat itu karena kelalaian, ya namanya manusiawi,”katanya
“Kita berharap kepada semua pihak mari, jangan karena hal yang sangat kecil itu yang akan merusak yang lain. Ini yang kita khawatir, jangan sampai karena massa allah MBG ini sudah dirasakan betul manfaatnya oleh rakyat. Bayangkan satu SPPG menyerap tenaga kerja sampai 50 orang. Jika sekian ribu SPPG maka berapa juga tenaga kerja yang diserap oleh program MBG,”tambahnya.
Disamping penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak, sambung TGH. Mustamin, jika mendengar cerita dari relawan yang mendistribusikan MBG ke sekolah-sekolah, mereka disambut dengan riang gembira oleh siswa-siswi di sekolah. “Cerita dari para relawan yang mengantar makanan ke sekolah, masa allah baru kelihatan mobil saja sudah diserbu anak-anak, meraka teriak mengatakan MBG datang. Ini bukti mereka (anak-anak) sangat bahagia, sangat senang adanya program MBG,”turutnya.
Selain itu, sambungnya, berdasarkan pengakuan guru dengan adanya program MBG ini salah satu manfaatnya dapat meningkatkan tingkat kehadiran anak ke sekolah. Disamping pemenuhan dari aspek kesehatan dan gizi. “Pengakuan dari beberapa guru tingkat kehadiran anak sekarang ini meningkat. Dulunya banyak yang malas-malasan sekarang betul-betul mereka (anak-anak) ingin masuk setiap hari untuk mendapatkan MBG, liburpun mereka rindu dengan MBG ini yang luar biasa,”katanya.
Namun yang perlu dipahami oleh masyarakat, lanjutnya, menu yang disajikan dalam program MBG ini tidak seperti makanan setiap hari yang meraka makan dirumah oleh anak-anak. Pemerintah pusat telah menekankan dalam menyajikan susu harus asli, bukan susu yang banyak campuran, seperti coklat, gula dan lain sebagainya. Terkadang hal ini berlawanan dengan keinginan anak-anak, justru anak-anak senang yang manis-manis padahal gulanya tinggi,”Jadi (makan MBG) ini bukan makanan enak. Tapi ini makanan bergizi, ini yang kadang-kadang sering tidak dipahami oleh masyarakat. Ini yang perlu dipahami sehingga tidak salah paham,”pungkasnya. (red).







