
Mataram(KabarBerita)— Tingkat inflasi di Kota Mataram mengalami kenaikan pada Januari 2026. Dibandingkan Januari 2025 yang berada di angka 3,21 persen, inflasi tahun ini tercatat naik menjadi 3,69 persen atau meningkat sebesar 0,48 persen.
Hal tersebut disampaikan Asisten II Setda Kota Mataram, H. Miftahurrahman, saat ditemui usai High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Mataram di Ruang Kenari, Kantor Wali Kota Mataram, Selasa (3/2).
Miftahurrahman menjelaskan, terdapat beberapa faktor utama yang memicu kenaikan inflasi tersebut. Faktor pertama adalah melonjaknya harga emas perhiasan yang kini berada di kisaran Rp3,3 juta. Kenaikan harga emas ini tidak hanya berdampak di daerah, tetapi juga berpengaruh secara nasional.
“Di NTB sendiri, Kota Mataram justru masih menjadi daerah dengan inflasi terendah, sementara inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Bima. Secara provinsi, inflasi NTB berada di angka sekitar 3,8 persen,” ujarnya.
Faktor kedua yang memicu inflasi adalah normalisasi tarif listrik. Pada Januari 2025, pemerintah sempat memberlakukan diskon tarif listrik sebesar 50 persen melalui surat edaran Menteri ESDM. Namun, pada Januari 2026 tarif listrik kembali normal sehingga turut mendorong kenaikan inflasi.
Selain itu, kenaikan harga beras juga menjadi penyumbang inflasi. Menurut Miftahurrahman, kenaikan harga beras tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga kondisi global. Pada Januari 2025, harga beras masih berada di angka Rp12.500 per kilogram. Sementara pada 2026, setelah terbitnya Surat Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) tahun 2025, harga beras naik menjadi Rp13.500 per kilogram.
“SK HET itu baru keluar sekitar Agustus 2025, sehingga harga beras di tahun ini menyesuaikan dan berdampak pada inflasi,” jelasnya.
Meski demikian, Miftahurrahman menyebut Kota Mataram juga mengalami deflasi pada sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai dan tomat. Deflasi tersebut dipicu oleh ketersediaan stok yang melimpah, salah satunya hasil dari pelaksanaan Gerakan Kolaborasi Operasi Pasar (KOPLING) yang digelar secara masif sejak 12 hingga 23 Januari 2026.
“Operasi pasar itu terbukti sangat berpengaruh terhadap inflasi month to month di Kota Mataram,” katanya.
Menjelang Ramadan, Miftahurrahman memastikan pasokan bahan pangan di Kota Mataram relatif aman. Pemkot Mataram, kata dia, akan terus bekerja secara kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan serta kembali menggelar pasar keliling sebelum Ramadan guna memastikan ketersediaan dan stabilitas harga bahan pangan.
“Insyaallah pasokan aman, tinggal kita jaga bersama agar Ramadan tahun ini berjalan dengan baik,” pungkasnya.







