
Mataram, (KabarBerita) — Menyambut arus mudik Lebaran 1447 H/2026 M, Universitas Islam Negeri Mataram menegaskan perannya sebagai institusi yang tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan sosial masyarakat.
Melalui program Masjid Ramah Pemudik, UIN Mataram menghadirkan ruang singgah yang nyaman, inklusif, dan bernilai spiritual bagi para pemudik.
“Kegiatan ini menjadi bagian dari pendekatan kolaboratif yang mempertemukan perguruan tinggi, masyarakat, dan lembaga keagamaan dalam satu gerakan pelayanan publik berbasis nilai keislaman,” kata Rektor UIN Mataram, Prof. Masnun Tahir, Minggu (22/3).

Masjid ramah pemudik ini ada di dua lokasi yang berbeda yakni pertama di Masjid Baiturrahman, Bujak, Batukliang Lombok Tengah dan kedua di Masjid Islahul Muslimin Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh perwakilan UIN Mataram, Dr. H. Muh. Hasanain, M.Pd.I bersama Akhyar Rasyidi, S.H., selaku penanggung jawab wilayah Lombok Timur.
Kegiatan ini turut melibatkan berbagai elemen strategis, mulai dari pemerintah desa, pengurus masjid, remaja masjid, hingga Ikatan Persatuan Penyuluh Agama Islam (IPARI) Kabupaten Lombok Timur, yang bersama-sama membangun ekosistem layanan mudik yang lebih terorganisir dan humanis.
Rektor UIN Mataram, Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya program tersebut. Ia bahkan turun langsung memantau sejumlah masjid yang dijadikan titik layanan pemudik di berbagai wilayah.
Menurutnya, optimalisasi fungsi masjid sebagai rest area alternatif merupakan inovasi strategis dalam menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat setiap musim mudik.

“Inisiatif ini bukan sekadar layanan tambahan, tetapi bagian dari transformasi peran masjid sebagai ruang publik yang inklusif. Ketika masjid mampu memberikan kenyamanan bagi pemudik, di situlah nilai-nilai keislaman hadir secara nyata dalam kehidupan sosial,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa program ini sejalan dengan gagasan Menteri Agama Prof DR KH. Nasaruddin Umar yang mendorong penguatan fungsi masjid sebagai pusat pelayanan umat, terutama dalam momentum strategis seperti Lebaran. Menurutnya, masjid harus mampu beradaptasi dengan dinamika sosial, termasuk menjawab kebutuhan praktis masyarakat modern tanpa kehilangan dimensi spiritualnya.
Sementara itu, pihak pengelola masjid dan pemerintah desa menyampaikan apresiasi atas kontribusi UIN Mataram yang dinilai signifikan dalam meningkatkan kualitas layanan bagi para pemudik. Kehadiran fasilitas ini tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin bagi para pelintas yang tengah menempuh perjalanan panjang.
Program Masjid Ramah Pemudik diharapkan menjadi model praktik baik yang berkelanjutan dan dapat direplikasi di berbagai titik strategis jalur mudik. Lebih dari itu, inisiatif ini menegaskan kembali posisi masjid sebagai episentrum pelayanan umat di era modern—adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. (*)







