
Mataram(KabarBerita)— SDN 40 Mataram terus memperkuat upaya pencegahan perundungan di lingkungan sekolah melalui program inovatif bertajuk “Duta Celly Menuju Zero Bullying”. Program tersebut hadir sebagai langkah nyata membangun budaya saling menghargai dan menekan konflik antarsiswa sejak dini.
Penggagas program, Siti Aminah, M.Pd mengatakan, inovasi itu lahir dari keprihatinan atas masih ditemukannya perilaku bullying di lingkungan sekolah, mulai dari saling mengejek hingga perkelahian antar siswa.
“Bullying sering dianggap hal biasa di kalangan anak-anak, padahal dampaknya besar terhadap psikologis mereka. Karena itu sekolah harus hadir dengan pendekatan yang lebih efektif,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini upaya pencegahan lebih banyak dilakukan melalui sosialisasi yang sifatnya satu arah. Namun pendekatan tersebut dinilai belum cukup mampu mengubah perilaku siswa secara menyeluruh.
“Anak-anak lebih mudah mencontoh apa yang mereka lihat dibanding hanya mendengar nasihat. Maka kami menghadirkan figur teladan dari siswa sendiri melalui program Duta Celly,” katanya.

Duta Celly sendiri merupakan singkatan dari “Cegah Bullying”. Melalui program ini, siswa didorong membiasakan perilaku positif setiap hari, seperti membantu teman, berbicara sopan, menghormati sesama, menjaga kebersihan sekolah, hingga membangun sikap toleransi tanpa membeda-bedakan teman.
Seluruh tindakan positif itu kemudian dicatat dalam Buku Jurnal Celly sebagai bentuk refleksi diri. Guru kelas turut melakukan pemantauan perkembangan perilaku siswa secara rutin.
“Program ini bukan sekadar memilih siswa terbaik, tetapi membangun kebiasaan baik agar menjadi budaya bersama di sekolah,” jelasnya.
Setiap bulan, sekolah memilih siswa yang konsisten menunjukkan perilaku positif untuk ditetapkan sebagai Duta Celly. Siswa terpilih diberikan apresiasi dan menjadi contoh bagi teman-temannya dalam membangun lingkungan sekolah bebas bullying.
Siti Aminah mengungkapkan, program tersebut mulai menunjukkan hasil positif. Konflik antarsiswa yang sebelumnya cukup sering terjadi kini mengalami penurunan signifikan.
“Sebelum program berjalan, konflik siswa bisa lima sampai enam kasus dalam sebulan. Setelah diterapkan, dalam enam bulan kasusnya turun menjadi satu sampai dua kasus saja,” ungkapnya.
Selain menekan angka bullying, program ini juga dinilai mampu meningkatkan rasa empati, kepedulian sosial, dan sikap saling menghargai di kalangan siswa.
“Harapan kami, anak-anak datang ke sekolah dengan rasa nyaman, tanpa takut diejek atau diperlakukan tidak baik oleh teman-temannya,” tegasnya.
Melalui pendekatan berbasis keteladanan teman sebaya, SDN 40 Mataram berharap program Duta Celly dapat menjadi gerakan berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bebas bullying dan penuh budaya positif.







