
Mataram(KabarBerita) – Upaya Pemerintah Kota Mataram untuk mengurai kemacetan di pusat Kota Mataram harus tertunda. Rencana pembukaan sekaligus pelebaran jalan baru yang menghubungkan kawasan Nuraksa hingga Batu Bolong dipastikan tak bisa direalisasikan tahun ini. Penyebabnya, perundingan pembebasan lahan antara pemerintah dan pemilik tanah belum menemukan titik temu.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram Lale Widiahning mengakui proyek tersebut terpaksa ditahan. “Gagal ya tahun ini, karena pemilik lahan tidak setuju,” ujarnya. Padahal, jalan alternatif itu digadang-gadang menjadi solusi untuk memecah kepadatan kendaraan yang setiap hari menumpuk di simpang Pagesangan dan sepanjang Jalan Gajah Mada.
Menurut Lale, kebuntuan terjadi karena perbedaan pandangan soal luasan lahan yang harus dibayar. Warga bersikeras meminta pemerintah membeli seluruh hamparan tanah milik mereka, sementara Pemkot hanya menganggarkan pembebasan sesuai kebutuhan teknis jalan, sebatas titik yang terdampak proyek. “Tuntutan warga itu dibebaskan dari ujung ke ujung. Kalau kami, kebutuhannya hanya bagian yang terkena proyek,” jelasnya.
Jika permintaan tersebut dipenuhi, anggaran daerah berisiko jebol. Pemkot sejatinya telah menyiapkan dana Rp4,7 miliar khusus untuk pembebasan lahan di jalur itu. Namun angka tersebut tak akan mencukupi bila harus memborong seluruh sisa tanah yang berada di luar desain jalan.
Nada serupa disampaikan Kepala Badan Keuangan Daerah Kota Mataram, M.Ramayoga. Ia menyebut pembahasan harga berjalan alot. “Misalnya kita butuh 3 are, warga punya 10 are. Kita diminta bayar 10 are itu. Pemerintah tentu membayar sesuai kebutuhan saja,” tegasnya. Ia menambahkan, pola pembebasan seperti ini bukan hal baru dan pernah diterapkan saat pelebaran Jalan Gajah Mada beberapa tahun lalu.
Dampak penundaan proyek pun terasa langsung. Tanpa jalur alternatif Nuraksa–Batu Bolong, beban kendaraan di Jalan Gajah Mada belum akan berkurang. Simpang Pagesangan diperkirakan tetap menjadi titik kemacetan, terutama pada jam sibuk berangkat dan pulang kerja.
Meski demikian, Pemkot Mataram belum menutup peluang. Proyek ini tetap masuk prioritas strategis. “Mudah-mudahan tahun depan bisa kita anggarkan lagi. Kami akan coba komunikasikan kembali dengan pendekatan yang berbeda,” pungkas Yoga.







