
Oleh: H. Lalu Wirajaya
Wakil Ketua DPRD NTB Fraksi Gerindra
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiulawal 1447 Hijriah, bukanlah sekadar agenda seremonial keagamaan, melainkan momentum untuk melakukan refleksi diri. Nabi Muhammad SAW hadir ke dunia sebagai rahmat bagi seluruh alam, teladan kesabaran, kesederhanaan, dan pengabdian tanpa pamrih.
Dalam cahaya peringatan ini, saya, sebagai Wakil Ketua DPRD NTB, ingin dengan tulus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Saya sadar, masih banyak kekurangan dalam menjalankan amanah sebagai wakil rakyat. Tugas-tugas yang belum terselesaikan dengan baik harus saya jadikan bahan muhasabah, agar langkah ke depan lebih terarah, lebih bermanfaat, dan lebih dekat pada kebutuhan rakyat.
Peristiwa terbakarnya Kantor DPRD NTB beberapa waktu lalu menjadi pengingat yang kuat. Sebagai bagian dari lembaga ini, saya memilih untuk tidak melihatnya semata-mata sebagai luka, tetapi juga sebagai pesan. Pesan bahwa wakil rakyat harus benar-benar hadir mendengar, memahami, dan merespons suara rakyat. Tidak ada ruang untuk saling menyalahkan, karena di balik peristiwa itu ada harapan agar komunikasi antara rakyat dan wakilnya lebih jernih dan terbuka.
Dalam banyak kesempatan, Bapak Presiden Prabowo Subianto, selalu berpesan bahwa kami sebagai kader Gerindra harus bersikap sabar, tenang, dan berlapang dada dalam menerima kritik, demonstrasi, maupun aspirasi rakyat. Kritik bukanlah musuh, melainkan bagian dari denyut demokrasi yang sehat. Arahan ini menjadi kompas moral bagi saya, agar setiap aspirasi yang datang, sekeras apa pun bentuknya, diterima dengan sikap rendah hati dan dijadikan dasar untuk memperbaiki diri.
Saya percaya, politik sejatinya bukan sekadar ruang perebutan kuasa, melainkan jalan pengabdian. Setiap jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada rakyat, melainkan juga di hadapan Allah SWT. Karena itu, saya berkomitmen untuk terus memperkuat ikhtiar dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat NTB, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, maupun pembangunan sosial yang lebih inklusif.
Momentum Maulid Nabi kali ini adalah pengingat kolektif bagi kita semua. Meneladani Nabi bukanlah perkara mengulang kisah, melainkan menghadirkan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Kesabaran beliau dalam menghadapi tantangan, kebesaran hatinya dalam merangkul musuh menjadi sahabat, serta keberanian beliau menegakkan keadilan, adalah nilai-nilai yang relevan untuk kita bawa dalam membangun NTB ke depan.
Akhirnya, mari kita jadikan Maulid Nabi ini sebagai pijakan untuk menguatkan niat tulus dalam membangun daerah kita. Dengan hati yang bersih, tekad yang kokoh, dan semangat kebersamaan, saya yakin NTB akan mampu melangkah menuju masa depan yang lebih bermartabat dan sejahtera.








