
Oleh : Lalu Turjiman Ahmad Akademisi UIN SMH Banten
************
Di tengah gencar propaganda yang menyudutkan Iran, mengingat negara tersebut resmi bermazhab teologi Syi’ah yang tidak laik didukung oleh komunitas Sunni ( ahli Sunnah waljama’ah) yang mayoritas, saya berpandangan lain.
Bagi saya pribadi, dua dari sekian banyak mazhab teologi yang saya kagumi di luar Ahlus Sunnah wal Jamaah yang saya imani adalah Mu’tzilah dan Syi’ah. Yg pertama karena sangat rasional. Sedangkan yang kedua ini memiliki keistimewaan tersendiri. Pertama, karena Syi’ah sangat ketat dan tegas dengan persoalan kepemimpinan (imamah). Oleh karena itu, Republik Islam Iran boleh dikata, ia memiliki posisi unik dalam geopolitik Timur Tengah. Salah satu kelebihannja, postur ideologi keagamaan (Madzhab Syi’ah Imamiyah) di satu pihak dan agenda politik-militer anti-imperialisme di pihak lain, berpadu membentuk kebijakan luar negeri yang agresif terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel. Semangat militansi ini bukanlah sekadar konflik sektarian, melainkan strategi hegemoni yang berakar dari Revolusi Islam 1979.
Syi’ah, sejak awal lahirnya sebagai suatu kelompok, adalah pengikut setia Sahabat Ali bin Abi Thalib r.a., sosok yang sederhana tetapi sangat penting dalam perjalanan sejarah Islam. Ali adalah sepupu baginda Nabi Muhammad saw. Ia juga adalah orang pertama yang masuk Islam di kalangan anak kecil, di saat paman Nabi dan beberapa orang dekat tidak mau menerima dakwah beliau.
Pada saat baginda Nabi mendapatkan perintah hijrah, Ali meletakkan jasadnya di atas ranjang Nabi, untuk mengecoh musuh sehingga menunda pengejaran. Andaikan orang-orang Quraisy menghujamkan pedang mereka, nyawa Ali pasti melayang. Beruntung mereka sempat membuka selimut itu, dan didapatinya tubuh Ali, bukan tubuh Nabi. Ali lolos dari tikaman, dan Nabi lolos dari kejaran. Nyawa Ali dipertaruhkan untuk keselamatan Nabi atas permintaannya sendiri.
Bagaimana dengan perang? Ali tidak pernah absen di setiap peperangan mendampingi baginda Nabi. Kalau terma Sahabat didefinisikan sebagai setiap orang yang pernah melihat Nabi dan mati dalam keadaan Islam, yang lainnya menyebut ikut dalam perang, membersamai Nabi tiga tahun, dan seterusnya, Ali telah melampaui semua kriteria itu. Lebih dari itu, Ali adalah menantu baginda Nabi (suami Sayidah Fatimah), yang darinya lahir dua cucu Nabi yang sangat beliau sayangi: Hasan dan Husein.
Pernah suatu ketika Nabi Muhammad saw. mendengar kabar bahwa Ali, menantu beliau, hendak menikah lagi. Beliau langsung bersabda bahwa tidak rela puteri beliau dimadu. Dan Ali pun mengurungkan niatnya. Padahal poligami ketika itu, adalah kebiasaan bangsa Arab. Baru ketika Islam datang, mulai dibatasi jumlahnya dan diperketat syaratnya. Ali memiliki segala kewenangan untuk melakukan poligami, namun beliau tunduk menghormati baginda Nabi.
Lamanya interaksi baginda Nabi dengan Ali bin Abi Thalib membuat Ali paham seluk-beluk dan karakter Islam, dan memahami dengan baik sasaran dakwah Nabi. Tidak heran kalau ia diberikan gelar “Bab al-ilmi” (pintu ilmu). Kata Nahu yang belakangan menjadi disiplin keilmuan, diambil dari kata-katanya kepada Abu al-Aswad al-Dua’ali. Ali, dalam banyak literatur, disebut sebagai peletak fondasi disiplin ilmu ini. Berkaitan dengan Balagah juga demikian. Ia adalah icon bagi elokuensi dalam berbahasa, yang kata-katanya kerap dikutip (lihat Nahjul Balagah).
Sesaat ketika Ali memangku jabatan khalifah, ia mewarisi masalah besar, yang dalam banyak literatur sejarah dikenal sebagai al-fitnah al-kubra.
Tetapi Ali selalu mengedepankan diplomasi dalam meredam perpecahan dalam tubuh umat Islam, alih-alih menggunakan cara kekerasan meskipun ia bisa karena sedang berkuasa.
Diplomasi itu pula yang, dengan penuh intrik, sayangnya melucuti kekuasaannya si kemudian hari. Ali akhirnya berhadapan dengan dua front sekaligus: front yang sejak awal menentangnya, dan front yang semula mendukungnya dan berbelot menjadi penentang utama. Ini belum termasuk menghadapi konflik-konflik kecil lainnya, yang menuntutnya terus sabar.
Lalu dua cucu yang amat disayang Nabi, yang sering dibawa Nabi shalat ke masjid, dan dari keduanya terlahir keturunan Nabi, hidup mereka berakhir dengan tragis. Bukan di tangan orang luar, tetapi akibat ketegangan politik dalam tubuh umat Islam sendiri meskipun tanpa menafikan peran orang luar di dalamnya. Peristiwa Karbala cukup untuk menggambarkan pilunya luka sejarah yang menimpa Ali dan keluarganya. Dan tragedi ini tentu akan sangat menyayat hati baginda Nabi, andaikan beliau masih hidup.
Tragedi demi tragedi dan luka sejarah itulah, di sisi lain, yang kiranya turut mematri semangat altruisme di kalangan penganut Syi’ah: sikap rela berkorban dan mengedepankan orang lain, yang sangat dianjurkan Al-Qur’an dan diwakili dengan kata ītsār (الإيثار).
Hari-hari ini kita pun menyaksikan, Iran sebagai entitas negara tampil paling depan dan tidak pernah goyah membela kemerdekaan bangsa Palestina yang mayoritas penduduknya Islam Sunni, di tengah embargo ekonomi dan sangsi politik selama beberapa dekade sejak memilih jalan revolusi dengan teologi Syi’ah sebagai mazhab resmi negara.
Altruisme itu lah yang menjadi keistimewaan lain yang saya kagumi dari ideologi Syi’ah, yang dapat menjawab harapan masyarakat dunia untuk dapat meredam penderitaan bangsa Palestina di saat negara-negara di kawasan tidak mampu berbuat banyak. Belakangan kita pun paham, bahwa perbedaan Sunni-Syi’ah adalah mesin propaganda untuk mendegradasi persatuan umat.
Umat yang saya maksudkan di sini bukan saja umat Islam, tetapi umat manusia: manusia yang merdeka dan tidak mau tunduk kepada hegemoni yang berlindung atas nama HAM dan menyebut diri sebagai pembawa perdamaian, tetapi gemar menumpahkan darah dalam mencapai kepentingannya.
Apakah Anda masih percaya dengan narasi rezim AS dan Israel yang seenaknya mengangkangi hukum humaniter, melanggar hukum internasional, dan menginjak-injak martabat suatu bangsa dan negara yang berdaulat? Apakah Anda masih percaya pada rezim yang mengajak berdamai sambil menodongkan senjata?
Apakah masih percaya pada yang memgklaim ingin menyelamatkan rakyat dari pemimpin yang disebutnya keji, sambil menyuplai senjata untuk mengadu rakyat dengan pemimpinnya? Apakah masih percaya pada yang menyebut diri membawa misi perdamaian, tetapi membunuh ratusan anak-anak perempuan yang sedang belajar di sekolah?
Tragedi terakhir ini memperjelas wajah dunia sejelas-jelasnya, sejelas hitam dan putih. Sulit mencari alasan untuk tidak berada di pihak Iran. Bukan semata karena Iran menyumbang banyak bagi peradaban, bukan pula karena menjadi tempat berkumpulnya banyak ahlul bait baginda Nabi. Tetapi, lebih utama lagi, karena Iran berani berkorban segalanya untuk kemanusiaan. Masyarakat dunia hari ini mendukung langkah politik dan militer yang ditempuh Iran atas agresi rezim AS dan Israel terhadapnya, untuk yang kesekian kalinya.
Duka mendalam atas syahidnya al-Mursyid al-Sayyid Ali Khamenei (28-02-2026), bersama ratusan anak-anak kecil yang sedang diasuh di sekolah yang dekat dengan komplek perkantoran beliau.
ولا تحسبن الذين قتلوا في سبيل الله أمواتا، بل أحياء عند ربهم يرزقون..








