
Mataram(KabarBerita) – Semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini terasa hidup dalam suasana yang berbeda di sebuah sudut kafe di Mataram. Bukan lewat pidato atau seremoni formal, melainkan melalui goresan warna anak-anak penyandang disabilitas yang dengan penuh percaya diri menumpahkan imajinasi mereka di atas kertas.
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Ikatan Istri Karyawan DPRD Kota Mataram berkolaborasi dengan Toko Kopi Telu menggelar lomba mewarnai bertajuk “Goresan Kasih Kartini Masa Kini”. Kegiatan ini menghadirkan anak-anak dengan beragam kondisi, mulai dari autisme, down syndrome hingga tunarungu, dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan.
Di tengah riuh rendah tawa anak-anak dan bisikan lembut para orang tua yang setia mendampingi, Ketua IIKD Kota Mataram, Nurlaily Ekawati Abdul Malik, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar lomba mewarnai, melainkan ruang untuk menghadirkan rasa percaya diri bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kami ingin menghadirkan Kartini masa kini yang bukan hanya tentang emansipasi perempuan, tetapi juga tentang kepedulian dan kesetaraan bagi semua anak bangsa,” ujarnya di sela kegiatan.
Menurutnya, setiap warna yang ditorehkan anak-anak memiliki cerita tersendiri. Di balik garis sederhana dan pilihan warna cerah, tersimpan keberanian dan harapan yang kerap tidak terlihat oleh banyak orang.
“Ini bukan sekadar kompetisi. Di balik setiap warna, ada keberanian, ada harapan, dan ada cinta yang tulus dari anak-anak kita,” ungkapnya.
Suasana kegiatan berlangsung santai namun penuh makna. Anak-anak tampak bebas mengekspresikan diri tanpa tekanan, sementara panitia memastikan setiap peserta merasa nyaman. Para orang tua pun terlihat haru menyaksikan anak-anak mereka berani tampil dan berkarya di ruang publik.
Kolaborasi dengan Toko Kopi Telu menjadi simbol penting bahwa ruang-ruang publik dapat diubah menjadi tempat yang ramah bagi semua kalangan, termasuk anak-anak disabilitas. Menurut Nurlaily, langkah kecil seperti ini diharapkan mampu membuka perspektif baru bahwa inklusivitas dapat dimulai dari lingkungan sederhana.
“Ini adalah bentuk kolaborasi yang sederhana, tetapi bermakna. Kami ingin menunjukkan bahwa ruang publik seperti kafe juga bisa menjadi tempat yang inklusif bagi anak-anak disabilitas untuk berkarya dan berinteraksi,” katanya.
Peringatan Hari Kartini tahun ini sengaja dikemas dengan pendekatan berbeda. Anak-anak disabilitas ditempatkan sebagai pusat kegiatan, bukan sekadar peserta pendamping. Langkah ini dinilai sejalan dengan semangat Kartini yang dahulu memperjuangkan kesetaraan hak, khususnya dalam pendidikan dan kesempatan berkarya.
“Kartini masa kini adalah mereka yang berani berkarya, tanpa batasan, tanpa stigma,” tegasnya.
Melalui goresan warna sederhana di atas kertas, semangat Kartini seakan menemukan bentuk baru, bukan hanya tentang perjuangan perempuan, tetapi tentang keberanian membuka ruang kasih, kesetaraan, dan kesempatan bagi setiap anak untuk bersinar dengan caranya masing-masing.





