
“Mengenang kiprah TGH. Muhammad Thoyyib dan TGH. Lalu Ibrahim M Thoyyib dalam membentuk dan menerangi kehidupan agama khususnya di kecamatan Batukliang Lombok Tengah”
TGH. Syarif Habiburrahman Sohibul Haul Allahyarhamhuma TGH Muhammad Thoyyib ke-48 & TGH Lalu Ibrahim Muh. Thoyyib ke-14. Penulis juga merupakan pimpinan Ponpes Uswatun Hasanah Cempaka Putih
Dalam lanskap intelektual-keagamaan Kecamatan Batukliang, dua sosok ulama ini ( TGH. Muhammad Thoyyib dan TGH. Lalu Ibrahim M Thoyyib) tidak sekadar hadir sebagai figur historis, melainkan menjelma sebagai simpul peradaban yang membentuk orientasi keberagamaan masyarakat secara berkesinambungan. Keduanya laksana dua bintang dalam satu konstelasi: memancarkan spektrum cahaya yang berbeda, namun berakar pada sumber nurani yang sama tradisi keilmuan Islam yang otentik dan bersanad.
Relasi di antara keduanya tidak dapat dibaca secara linear sebagai hubungan biasa, tetapi lebih tepat dipahami sebagai keterjalinan ontologis antara ilmu, amal, dan adab. Keterhubungan ini menghadirkan kesinambungan epistemik yang kokoh: dari transmisi pengetahuan yang terjaga, hingga internalisasi nilai yang menghidupkan ruh keilmuan itu sendiri. Dalam kerangka ini, keduanya merepresentasikan figur waratsatul anbiya’ yang tidak hanya menjaga teks, tetapi juga menghidupkan konteks.
Secara sosiologis, keduanya memainkan peran strategis sebagai agen transformasi kultural. Mereka berhasil mengintegrasikan ajaran normatif Islam dengan realitas lokal, sehingga agama tidak hadir sebagai entitas yang kaku, melainkan sebagai sistem nilai yang hidup, membumi, dan membimbing. Yang satu meneguhkan fondasi tradisi, sementara yang lain mengembangkan artikulasi dakwah; namun keduanya berpadu dalam satu orientasi: pengabdian total kepada Allah dan kemaslahatan umat.

Lebih dari itu, kehadiran keduanya membentuk apa yang dapat disebut sebagai “arsitektur spiritual” Batukliang-sebuah bangunan peradaban yang ditopang oleh sanad keilmuan, keteladanan akhlak, dan keberlanjutan perjuangan. Dalam bangunan ini, ilmu tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berkelindan dengan adab, dan dakwah tidak berhenti pada lisan, tetapi menjelma dalam praksis kehidupan.
Oleh karena itu, peringatan haul terhadap keduanya bukan sekadar ritus memorial, melainkan ruang kontemplatif untuk merekonstruksi kesadaran kolektif umat. Haul menjadi momentum untuk membaca ulang jejak intelektual dan spiritual yang telah diwariskan, sekaligus meneguhkan komitmen untuk melanjutkan estafet perjuangan tersebut dalam konteks zaman yang terus berubah.
Dengan demikian, dua ulama ini layak diposisikan sebagai konstelasi kembar dalam cakrawala Batukliang: berbeda dalam ekspresi, namun satu dalam esensi; terpisah dalam dimensi temporal, namun menyatu dalam ruh perjuangan. Cahaya keduanya tidak pernah padam-ia terus menjalar, menembus batas generasi, menjadi suluh bagi umat dalam menapaki jalan ilmu, iman, dan pengabdian.







