Didi Sumardi Kritik Keras Upah PPPK di NTB, Sebut Pemerintah Gagal Jadi Contoh

Mataram(KabarBerita)– Kritik tajam dilontarkan Anggota Fraksi Golkar DPRD Provinsi NTB, Didi Sumardi, terhadap kebijakan pengupahan di lingkungan pemerintahan. Ia menilai pemerintah belum mampu menjadi teladan dalam menjamin kesejahteraan pegawainya sendiri, khususnya bagi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.

Didi menegaskan, persoalan ketenagakerjaan tidak hanya terjadi di sektor swasta. Bahkan, menurutnya, problem serupa justru terlihat nyata di instansi pemerintah.

“Jangankan yang di swasta, yang bekerja di pemerintahan saja masih bermasalah. PPPK paruh waktu ini masih menjadi tantangan besar, terutama dalam pemenuhan hak-haknya,” ujarnya.

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai ironi. Di satu sisi, pemerintah kerap menuntut perusahaan swasta untuk patuh terhadap standar upah minimum. Namun di sisi lain, praktik serupa belum sepenuhnya diterapkan dalam tubuh birokrasi sendiri.

Sorotan ini menguat setelah mencuatnya kasus di salah satu daerah di NTB, di mana tenaga PPPK disebut hanya menerima gaji sekitar Rp500 ribu per bulan, bahkan ada yang lebih rendah. Angka tersebut jauh dari standar Upah Minimum Provinsi (UMP) dan dinilai tidak manusiawi, terlebih bagi mereka yang bekerja di sektor pelayanan dasar.

“Ada yang mengabdi di sekolah, di fasilitas kesehatan, dan di berbagai layanan publik lainnya, tapi digaji di bawah UMP. Ini sangat memprihatinkan,” kata Didi.

Menurutnya, kondisi ini tidak hanya soal angka, tetapi juga menyangkut komitmen negara dalam menghargai pengabdian tenaga pelayanan publik. Jika dibiarkan, hal ini berpotensi menurunkan kualitas layanan kepada masyarakat.

DPRD NTB, lanjut Didi, terus mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk membenahi sistem pengupahan tersebut. Ia menekankan pentingnya penetapan standar gaji minimal bagi PPPK, setidaknya setara dengan UMP.

“Kami terus menyuarakan ini di DPRD. Harus ada solusi nyata agar PPPK mendapatkan haknya. Jangan hanya swasta yang diwajibkan memberikan upah layak, sementara pemerintah sendiri tidak memberikan contoh,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Di tengah tuntutan peningkatan kualitas pelayanan publik, kesejahteraan aparatur justru masih menyisakan persoalan mendasar yang belum terselesaikan.

  • Related Posts

    Lewat Program BERANI II, Angka Perkawinan Anak di NTB Turun Signifikan

    Mataram(KabarBerita)— Program BERANI II, inisiatif kolaboratif lintas lembaga yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui UNICEF bersama mitra QR Moment, berhasil menekan angka perkawinan anak di Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga…

    Dihadiri ASN dan Non ASN, Digelar Sertijab dan Lepas Sambut Kadis Kominfotik NTB

    MATARAM (KabarBerita) – Pasca dilaksanakan mutasi pejabat dilingkup Pemprov NTB beberapa waktu lalu. Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik (Diskominfotik) NTB menggelar serah terima jabatan (Sertijab) dan pisah sambut dari pejabat…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    Jaga Kesinambungan Program dan Kelangsungan Organisasi, PWI Pusat Isi Jabatan Sekjen

    Jaga Kesinambungan Program dan Kelangsungan Organisasi, PWI Pusat Isi Jabatan Sekjen

    394 Orang Tidak Tercover P3K PW Dapat Taliasih dari Pemprov NTB

    394 Orang Tidak Tercover P3K PW Dapat Taliasih dari Pemprov NTB

    Kakanwil Kemenag NTB Dr. Zamroni Tegaskan Toleransi Beragama sebagai Pondasi Membangun Negara    

    Kakanwil Kemenag NTB Dr. Zamroni Tegaskan Toleransi Beragama sebagai Pondasi Membangun Negara    

    Sekjed DPP PPP Taj Yasin Cabut SK Kepengurusan Muzihir di DPW PPP NTB

    Sekjed DPP PPP Taj Yasin Cabut SK Kepengurusan Muzihir di DPW PPP NTB

    Raih Juara 1 LKS Tingkat Provinsi, Vino Siswa SMKN 1 Praya Tengah Akan Wakili NTB Ketingkat Nasional

    Raih Juara 1 LKS Tingkat Provinsi, Vino Siswa SMKN 1 Praya Tengah Akan Wakili NTB Ketingkat Nasional

    Menengok Nyongkolan Sultan dan Rosa, Menjaga Tradisi di Tengah Kota

    Menengok Nyongkolan Sultan dan Rosa, Menjaga Tradisi di Tengah Kota