
Mataram(KabarBerita)— Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra di Kota Mataram tidak dirayakan dengan seremoni semata. Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Kota Mataram memilih turun langsung ke lapangan dengan menggelar aksi bersih-bersih Pantai Tanjung Karang, Kecamatan Sekarbela, Jumat (6/2).
Di bawah terik pagi, kader Gerindra bersama berbagai unsur turun memungut sampah yang berserakan di sepanjang garis pantai. Namun kegiatan itu tak berhenti pada urusan kebersihan. Aksi sosial tersebut sekaligus menjadi ruang dialog antara wakil rakyat dan masyarakat pesisir, khususnya para nelayan yang setiap hari menggantungkan hidup pada laut.
Ketua DPC Partai Gerindra Kota Mataram, Abd Rachman, menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan semangat HUT ke-18 Gerindra yang mengusung tagline Kompak Bergerak Berdampak. Menurutnya, peringatan hari lahir partai harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Momentum bersih pantai ini bukan hanya soal membersihkan lingkungan, tapi juga mendengar langsung apa yang menjadi kegelisahan nelayan di Tanjung Karang,” ujar Rachman yang juga menjabat Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram.
Dalam dialog bersama warga, persoalan abrasi pantai menjadi keluhan utama. Hampir setiap tahun, garis pantai terus tergerus, diperparah oleh angin kencang dan gelombang besar. Akibatnya, nelayan kesulitan memarkir perahu di bibir pantai.
“Pinggiran pantai makin terkikis. Area parkir perahu menyempit, sehingga nelayan terpaksa menarik perahu jauh ke darat. Ini jelas menyulitkan mereka,” katanya.
Rachman menjelaskan, nelayan di sepanjang sekitar sembilan kilometer garis pantai Kota Mataram berharap adanya pembangunan jeti atau riprap penahan gelombang. Infrastruktur tersebut dinilai mampu menciptakan perairan yang lebih tenang sekaligus menyediakan tempat sandar perahu yang aman.
“Dengan riprap atau jeti, kawasan pantai bisa membentuk telukan yang lebih tenang. Itu sangat dibutuhkan nelayan sebagai tempat parkir perahu,” jelasnya.
Ia menegaskan, rencana penataan kawasan pesisir sebagai destinasi wisata tidak boleh mengabaikan kebutuhan dasar nelayan. Menurutnya, pembangunan pariwisata dan keberlangsungan hidup nelayan harus berjalan beriringan.
“Kalau pantai mau ditata menjadi kawasan wisata, maka persoalan nelayan harus diselesaikan lebih dulu. Nelayan dan pariwisata tidak boleh saling menyingkirkan,” tegasnya.
Selain abrasi, isu kebersihan pantai juga menjadi sorotan. Rachman menilai, persoalan sampah di kawasan pesisir tidak bisa dilepaskan dari aliran sungai yang bermuara ke laut.
“Sampah dari hulu pasti berakhir di hilir, termasuk di pantai. Kota Mataram dilalui beberapa sungai besar, sehingga perlu inovasi agar sampah tidak terus menumpuk di pesisir,” ujarnya.
Meski mengakui keterbatasan anggaran, Rachman optimistis persoalan lingkungan dapat diatasi jika ada komitmen bersama.
“Kalau sudah menjadi prioritas, pasti ada jalan. Yang penting ada kemauan dan kerja bersama,” katanya.
Ia pun menunjuk hasil nyata dari aksi bersih pantai yang dilakukan secara gotong royong.
“Tadi kita lihat sendiri, pantai yang sebelumnya kotor sekarang terlihat jauh lebih bersih. Ini berkat kebersamaan semua pihak, mulai dari TNI, Polri, unsur provinsi, hingga kader Gerindra,” ungkapnya.
Rachman berharap semangat kebersamaan tersebut tidak berhenti pada momentum peringatan HUT partai, melainkan menjadi budaya kolektif dalam menjaga lingkungan dan memperjuangkan kepentingan masyarakat pesisir.
“Kalau kita bergerak bersama, persoalan seberat apa pun bisa dihadapi. Dengan gotong royong, masalah lingkungan dan kesejahteraan nelayan bisa kita selesaikan bersama,” tutupnya.








