
Penulis : Nasri Boedjana
Wartawan Muda
RAMADAN di Lombok tidak hanya menghadirkan suasana religius melalui ibadah puasa, tarawih, dan tadarus Al-Qur’an. Di tengah masyarakat suku Sasak, ada satu tradisi yang selalu menghadirkan nuansa khas menjelang berakhirnya bulan suci, yakni tradisi Maleman. Tradisi ini bukan sekadar kegiatan budaya, tetapi juga sarat makna spiritual yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Maleman biasanya dilaksanakan pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadan, yakni malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Dari semua malam itu, malam ke-27 sering menjadi puncak pelaksanaan. Setelah azan Magrib berkumandang, masyarakat mulai menyalakan dile jojor, yakni obor kecil tradisional yang dipasang di sudut rumah, pekarangan, hingga di area makam keluarga.
Dile jojor dibuat dengan cara sederhana namun penuh makna. Biasanya menggunakan buah pohon jarak atau jamplung yang dihancurkan, dicampur kapas sebagai sumbu, lalu ditempelkan pada batang bambu kecil. Ketika dinyalakan, cahaya dari dile jojor memancar redup namun hangat, menciptakan pemandangan yang khas di kampung-kampung Lombok pada malam-malam Ramadan.
Di balik cahaya kecil itu tersimpan filosofi yang mendalam. Bagi masyarakat Sasak, cahaya dile jojor melambangkan nur atau cahaya petunjuk, yang diharapkan hadir dalam kehidupan manusia. Maleman juga dikaitkan dengan momen turunnya Al-Qur’an dan harapan menyambut Lailatul Qadar, malam yang diyakini lebih baik dari seribu bulan. Karena itu, menyalakan dile jojor bukan sekadar tradisi, tetapi juga simbol pengharapan akan keberkahan dan petunjuk dari Tuhan.
Tradisi ini juga memiliki dimensi penghormatan kepada leluhur. Banyak keluarga yang menyalakan dile jojor di makam keluarga sambil mengirimkan doa. Dalam konteks ini, Maleman menjadi ruang spiritual yang menghubungkan generasi sekarang dengan mereka yang telah lebih dahulu berpulang.
Jika ditarik ke masa lalu, dile jojor juga memiliki fungsi yang sangat praktis. Pada zaman ketika penerangan listrik belum menjangkau banyak desa di Lombok, cahaya dari dile jojor menjadi penerang jalan bagi warga yang hendak ke masjid untuk melaksanakan tarawih atau mengantarkan zakat fitrah. Cahaya-cahaya kecil itu membentuk barisan penerang yang seolah menuntun langkah masyarakat menuju tempat ibadah.
Tidak hanya menyalakan obor, malam Maleman juga biasanya diisi dengan berbagai aktivitas sosial dan keagamaan. Di beberapa desa, masyarakat menggelar tahlilan, sedekah, hingga makan bersama di masjid. Momentum ini menjadi ruang berkumpulnya warga, mempererat silaturahmi, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sasak.
Di tengah arus modernisasi dan perubahan gaya hidup, keberadaan tradisi Maleman menjadi pengingat pentingnya menjaga kearifan lokal. Tradisi ini bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan bagian dari identitas budaya yang mengandung nilai spiritual, sosial, dan historis.
Cahaya dile jojor mungkin sederhana, bahkan tampak kecil jika dibandingkan dengan lampu-lampu modern yang terang benderang. Namun justru dalam kesederhanaannya itulah tersimpan pesan yang mendalam: bahwa cahaya kebaikan tidak harus besar untuk memberi makna. Ia cukup hadir dengan tulus, menerangi hati dan mengikat kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.
Di Lombok, selama dile jojor masih menyala di malam-malam Ramadan, selama itu pula tradisi Maleman akan terus menjadi cahaya budaya yang menjaga ingatan kolektif masyarakat Sasak—bahwa iman, tradisi, dan kebersamaan selalu memiliki tempat dalam perjalanan waktu. (*)








