Mataram (KabarBerita) – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Kebudayaan NTB, memastikan revitalisasi kawasan cagar budaya Istana Dalam Loka di Kabupaten Sumbawa Besar dilaksanakan tahun ini.
Program ini tidak hanya fokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi penguatan ekosistem budaya dan ekonomi kreatif di sekitarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menyampaikan, usulan awal anggaran revitalisasinya Rp76 miliar, tapi pemerintah pusat melalui kementerian terkait menyetujui anggaran sekitar Rp26 miliar.
“Anggarannya pertama diusulkan Rp76 miliar, tetapi yang di-ACC kementerian sekitar Rp26 miliar,” ujarnya usai mengikuti Sidang Paripurna DPRD NTB di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, Selasa (14/7/2027).
Anggaran tersebut akan digunakan untuk merevitalisasi tiga bangunan bersejarah, yakni Istana Dalam Loka serta dua bangunan pendukung yang dikenal sebagai Istana Kuning dan Istana Putih.
Menurut Ihwan sapaan Kadis Kebudayaan itu, revitalisasi dilakukan dengan mengembalikan fungsi asli bangunan sebagai cagar budaya, Sejumlah bagian bangunan yang mengalami kerusakan dan kemiringan akan diperbaiki agar lebih aman dan nyaman bagi masyarakat maupun wisatawan.
“Dikembalikan ke fungsi semula, Ada beberapa bagian yang sudah rusak dan miring, sehingga perlu direvitalisasi supaya lebih aman dan nyaman,” terangnya.
Ia menegaskan, perhatian pemerintah tidak hanya tertuju pada revitalisasi fisik bangunan, tetapi juga pada sistem pengelolaan kawasan agar mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Jadi tidak hanya bermanfaat bagi pengelola istana, tetapi juga bagi UMKM yang ada di sekitarnya,” jelasnya.
Ia mengakui anggaran yang tersedia belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan revitalisasi, namun pemerintah akan terus mengupayakan dukungan lanjutan dengan tetap mendorong kemandirian pengelolaan kawasan budaya.
“Kebudayaan tidak ditujukan untuk membuat lingkungan menjadi bergantung, tetapi justru harus mandiri,” ucapnya.
Ia memberikan gambaran keberhasilan penyelenggaraan Alunan Budaya Peringgasela di Lombok Timur yang telah berlangsung selama satu dekade dan kini masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan budaya dapat berjalan secara mandiri sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
Ia berharap konsep serupa dapat diterapkan di kawasan Istana Dalam Loka sehingga menjadi destinasi wisata budaya yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Pengembangannya memang diarahkan menjadi objek wisata budaya, pengembangan ekonomi kebudayaan, hingga industri kebudayaan. Memang ada PAD yang dihasilkan, tetapi yang paling utama adalah pelestarian nilai-nilai budaya, khususnya cagar budaya,” tambahnya.
Dikatakannya juga pengembangan kawasan Istana Dalam Loka Samawa harus terintegrasi dengan destinasi lain di Pulau Sumbawa, seperti Teluk Saleh, Gunung Tambora, hingga tradisi pacuan kuda yang telah menjadi identitas daerah itu.
“Orang datang ke Istana Dalam Loka tidak hanya melihat istananya saja, tetapi juga menikmati destinasi lain, Jadi terbentuk satu ekosistem kebudayaan yang ada di Sumbawa,” paparnya.
Lebih lanjut dikatakannya pengembangan kebudayaan NTB tidak hanya berpusat di Pulau Lombok, tapi Pulau Sumbawa yang memiliki karakter budaya kesultanan yang menjadi kekuatan tersendiri dalam memperkaya khazanah budaya NTB.
“Kalau Lombok dikenal dengan kawasan kedatuan, maka Sumbawa adalah kawasan kesultanan. Pengembangan kebudayaan NTB harus mencakup kedua pulau tersebut,” ujarnya.
Terkait pelaksanaan revitalisasi, Ihwan menargetkan pekerjaan fisik mulai berjalan pada akhir Juli 2026 dan harus selesai sebelum akhir tahun agar tidak menimbulkan persoalan administrasi.
“Harus selesai tahun ini, Kalau tidak terlaksana, sayang nanti bisa menjadi temuan,” pungkas Ihwan.





