Hardiknas, Ratusan Mahasiswa  Gelar Unjuk Rasa di depan kantor DPRD NTB

Mataram (KabarBerita) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)  diwarnai aksi unjuk rasa ratusan Mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi mahasiswa Indonesia di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi NTB, Jum’at (02/5).

Dalam aksi ini, massa menolak komersialisme pendidikan yang dinilai sangat merugikan para orang tua, terutama orang tua yang hanya buruh tani dan bangunan.

Kooordinator aksi Lalu Nazir Huda dalam orasinya menyampaikan keprihatinannya terhadap dunia pendidikan saat ini, dimana sekolah lebih menekankan kemampuan kognitif seharusnya siswa diajarkan bagaimana menyelesaikan suatu permasalahan.

“Berdasarkan data 70% sekolah menekankan sistem menghapal (kognitif) seharusnya menekankan cara berfikir kritis” pungkasnya.

Aksi unjuk rasa kali sempat diwarnai aksi saling dorong dengan aparat. Massa aksi memaksa ingin masuk ke gedung DPRD Provinsi NTB. Namun beruntung situasi memanas ini diredam ketika perwakilan DPRD NTB yakni dari Komisi V keluar dan berdialog dengan massa aksi.

Adapun tuntutan yang disampaikan oleh masa Aksi ini adalah :

1. Sitem pendidikan nasional yang gratis,ilmiah,demokratis dan berbasis kerakyatan khusus daerah 3T untuk kelas buruh tani dan rakyat.

2. Dampak efisiensi APBN dan cabut PMBG (program makan bergizi gratis).

3. segera sahkan UU PPRT (Perlindungan Pekerja Rumah Tangga).

4. Tolak dan hentikan pembahasan RUU      Sisdiknas yang tidak melibatkan partisipasi publik yang bermakna.

5. Jalankan program jangka panjang Reformasi Agraria

6. Penanganan pelecehan dan kekerasan seksual dilingkup perguruan tinggi

7. Hentikan perampasan tanah oleh PT.ITDC di kuta Mandalika dan Mafia tanah di pondok prasi

8. Cabut UU cipta kerja Omnibus law yang merugikan buruh

9. Menegaskan UU pasal 7 ayat 2,UU no 16 tahun 2019 tentang perkawinan mengenai permohonan dispensasi kawin agar tidak salah digunakan,khususnya untuk melegitimasi pernikahan  antara korban kekerasan seksual dengan pelaku dan ketimpangan hukum adat.

10. Menuntut transparansi dalam mengelola sektor pendidikan agama dan perubahan kurikulum yang melanggengkan sistem feodal.

Setelah menyampaikan sepuluh tuntutannnya, massa aksi lalu membubarkan diri dengan tertib dengan pengawalan ketat pihak aparat kepolisian.

Related Posts

Komisi X DPR RI, BPS RI dan Pemda NTB Dukung Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026

MATARAM (KabarBerita) –Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 mendapatkan dukungan dari Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Badan Pusat Statistik (BPS) RI dan Pemerintah Daerah (Pemda) NTB. Wakil Ketua Komisi…

Ini Penjelasan Gubernur NTB Terkait Proyek Jalan Lenangguar-Lunyuk Sumbawa Belum Rampung

MATARAM (KabarBerita) – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr Lalu Muhamad Iqbal berikan penjelasan terkait belum rampungnya progres jalan Lenangguar-Lunyuk yang seharusnya selesai Mei 2026 lalu. Miq Iqbal sapaan Gubernur…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Komisi X DPR RI, BPS RI dan Pemda NTB Dukung Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026

Komisi X DPR RI, BPS RI dan Pemda NTB Dukung Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026

Ini Penjelasan Gubernur NTB Terkait Proyek Jalan Lenangguar-Lunyuk Sumbawa Belum Rampung

Ini Penjelasan Gubernur NTB Terkait Proyek Jalan Lenangguar-Lunyuk Sumbawa Belum Rampung

Selama Libur Sekolah Pendistribusian MBG Dihentikan 

Selama Libur Sekolah Pendistribusian MBG Dihentikan 

Pemprov NTB Paparkan Strategi Perbaikan Tata Kelola Keuangan pada Validasi IPKD 2025

Pemprov NTB Paparkan Strategi Perbaikan Tata Kelola Keuangan pada Validasi IPKD 2025

Demi Keadilan SPMB, Ical Usul Pembagian Kuota pada Jalur Prestasi Agama

Demi Keadilan SPMB, Ical Usul Pembagian Kuota pada Jalur Prestasi Agama

Oknum Jukir Diduga Jual Lahan Pasar, Disdag Mataram Minta Parkir Dikelola Kepala Pasar

Oknum Jukir Diduga Jual Lahan Pasar, Disdag Mataram Minta Parkir Dikelola Kepala Pasar