
Mataram(KabarBerita) — Pendidikan agama dinilai tak cukup hanya mengandalkan semangat pengabdian. Dibutuhkan kualitas, metode, dan standar yang jelas agar nilai-nilai keislaman benar-benar tertanam kuat sejak dini. Inilah pesan utama yang disampaikan Ketua DPRD Kota Mataram, Abdul Malik, saat membuka pelatihan peningkatan kualitas guru ngaji yang digelar POS DAI NTB.
Di hadapan para peserta pelatihan, Abdul Malik menegaskan bahwa guru ngaji memiliki peran strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Mereka bukan sekadar pengajar baca tulis Al-Qur’an, tetapi juga penanam nilai moral dan spiritual di tengah masyarakat.
“Guru ngaji adalah fondasi pendidikan agama di lingkungan kita. Dari merekalah anak-anak pertama kali belajar Al-Qur’an dan nilai-nilai agama,” ujar Malik.
Namun, ia tak menutup mata terhadap realitas di lapangan. Malik menilai kualitas guru ngaji di Indonesia, termasuk di daerah, masih belum merata. Ada yang telah memiliki kemampuan dan metode pengajaran yang baik, tetapi tak sedikit pula yang masih mengandalkan cara-cara lama yang kurang efektif.
“Kondisi ini tentu berpengaruh pada kualitas pendidikan agama yang diterima anak-anak. Karena itu, peningkatan kapasitas guru ngaji menjadi kebutuhan mendesak,” tegasnya.
Menurut Malik, salah satu solusi utama adalah mendorong adanya standarisasi guru ngaji. Standar tersebut mencakup kualifikasi minimal, penguasaan metode pembelajaran Al-Qur’an yang tepat, hingga evaluasi berkala agar kualitas pengajaran tetap terjaga.
“Standarisasi ini penting agar semua guru ngaji memiliki kemampuan yang setara dan mampu mengajarkan Al-Qur’an serta ilmu agama secara benar dan efektif,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Abdul Malik juga memberikan apresiasi kepada POS DAI NTB yang telah mengambil peran aktif melalui pelatihan peningkatan kualitas guru ngaji. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai langkah konkret dalam memperkuat sumber daya manusia di bidang pendidikan agama.
“Apa yang dilakukan POS DAI NTB patut diapresiasi. Ini bukan sekadar pelatihan, tapi investasi jangka panjang untuk kualitas pendidikan agama di daerah,” imbuhnya.
Lebih jauh, Malik memaparkan sejumlah langkah lanjutan yang perlu dipikirkan bersama, mulai dari penetapan standar kompetensi, pelatihan berkelanjutan, pengawasan dan evaluasi, hingga pemberian insentif sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi guru ngaji.
Dengan adanya pelatihan dan penguatan kapasitas tersebut, Malik berharap kualitas guru ngaji semakin meningkat, sehingga pendidikan agama yang diterima anak-anak tidak hanya bersifat rutinitas, tetapi benar-benar membentuk karakter dan akhlak generasi masa depan.







