
Lombok Tengah (KabarBerita) – Masyarakat suku Sasak di Pulau Lombok memiliki beragam tradisi adat yang masih lestari hingga saat ini. Salah satu yang tetap dijaga turun-temurun adalah prosesi adat merangkat, bagian penting dalam rangkaian pernikahan adat Sasak yang sarat makna kebersamaan dan kekeluargaan.
Tradisi tersebut kembali terlihat dalam prosesi pernikahan Lalu Aria Sultan Madani dan Rosa Ninty Oktamadila di Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Suasana adat begitu terasa saat keluarga, kerabat, hingga para muda-mudi kampung turut mengiringi jalannya prosesi merangkat.
Prosesi diawali dengan arak-arakan pengantin dari salah satu rumah kerabat menuju rumah mempelai pria. Sepanjang perjalanan, rombongan diiringi para pemuda dan pemudi yang masing-masing membawa satu ekor ayam kampung sebagai simbol dukungan serta doa bagi pasangan yang akan memasuki kehidupan rumah tangga.
Dari tradisi tersebut, terkumpul sebanyak 99 ekor ayam kampung yang kemudian dimasak dan disantap bersama dalam suasana penuh syukur dan keakraban.
Dalam budaya Sasak, merangkat merupakan tradisi yang dilakukan setelah prosesi merariq atau kawin lari. Prosesi ini menjadi penanda bahwa kedua keluarga telah mencapai kesepakatan adat dan menerima hubungan kedua mempelai secara resmi.
Tokoh masyarakat setempat, Lalu Junaidi, mengatakan tradisi merangkat bukan sekadar acara seremonial, melainkan wujud kuatnya solidaritas sosial masyarakat Sasak.
“Tradisi ini melibatkan keluarga besar, tetangga, hingga tokoh adat. Nilai gotong royong dan silaturahmi sangat terasa dalam kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Menurutnya, ayam kampung yang dibawa para pemuda memiliki filosofi melepas masa lajang salah satu sahabat atau kerabat mereka yang akan memulai kehidupan baru dalam rumah tangga.
Ayam-ayam tersebut kemudian diolah menjadi hidangan khas dalam tradisi mengkele atau makan bersama. Salah satu menu wajib yang selalu hadir adalah ayam merangkat, yakni ayam kampung bakar yang disuwir dan dibumbui rempah khas Lombok. Selain itu, terdapat pula sajian tradisional lain seperti totok telok dan antuk manok.
Tak hanya menjadi ajang kebersamaan, merangkat juga memiliki fungsi sosial di tengah masyarakat. Tradisi ini menjadi cara keluarga mengumumkan adanya pernikahan kepada warga sekitar, sehingga keberadaan mempelai perempuan di rumah keluarga laki-laki diketahui masyarakat dan tidak menimbulkan prasangka ataupun fitnah.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi merangkat tetap bertahan sebagai warisan budaya masyarakat Sasak yang mengandung nilai persaudaraan, penghormatan, dan kuatnya ikatan sosial antarwarga.





