
Mataram(KabarBerita) – Keganasan ombak Selat Lombok menyisakan duka mendalam bagi Nuri Aprianti, warga Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. Rabu malam lalu, rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal sekaligus sumber penghidupannya, hancur seketika diterjang gelombang pasang.
Menjelang malam, selepas Magrib, air rob sebenarnya sudah mulai menggenangi permukiman warga. Namun Nuri tak pernah menyangka, air laut itu akan berubah menjadi teror yang meluluhlantakkan segalanya. Saat itu, ia berada di teras rumahnya yang juga difungsikan sebagai tempat berjualan kecil-kecilan.
Anak sulung Nuri berada di dalam kamar, sementara anak bungsunya sejak Magrib berada di luar rumah dan enggan masuk. Naluri seorang ibu membuat Nuri memanggil anaknya yang berada di dalam rumah untuk keluar dan mendekat ke arahnya. Keputusan itu menjadi penyelamat, sebab tak lama kemudian ombak besar datang tanpa ampun.
Sekitar pukul 20.00 Wita, tepat di waktu salat Isya, Nuri mendengar suara gemuruh yang begitu menggetarkan. Dalam hitungan detik, dua pintu rumahnya seakan “meledak” dihantam air laut. Gelombang pasang menerobos masuk, merobohkan dinding dan menyapu seluruh isi rumah.
“Awalnya air itu masih naik lewat-lewat saja, kami tidak menyangka bakal separah ini. Ombaknya besar sekali dan datang tiba-tiba. Pintu langsung jebol, air masuk semua. Kami tidak sempat menyelamatkan barang, semuanya habis,” tutur Nuri dengan suara bergetar.

Sebagai pedagang kecil yang mengandalkan rumahnya untuk berjualan, Nuri tak sempat menyelamatkan apa pun. Uang hasil jualan ikut hanyut bersama arus rob. Dari seluruh harta bendanya, hanya sebuah telepon selular yang tersisa—itulah satu-satunya benda yang sempat ia genggam saat kejadian.
Kerugian yang dialami Nuri ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. Kini, ia dan keluarganya kehilangan tempat tinggal. Untuk sementara, Nuri terpaksa menumpang tidur di rumah tetangga, menunggu kepastian dan uluran bantuan.
Dengan mata berkaca-kaca, Nuri menyampaikan harapannya kepada pemerintah. “Harapan saya kepada Pak Wali Kota, Pak Gubernur, dan semua pihak, tolong rumah kami diperbaiki. Ini satu-satunya tempat tinggal kami. Mata pencaharian kami juga di sini. Sekarang kami sudah tidak punya apa-apa,” ucapnya lirih.
Sebagai informasi, gelombang pasang setinggi sekitar lima meter disertai abrasi pantai menerjang Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 22.00 Wita. Peristiwa ini dipicu hujan lebat yang disertai angin kencang. Akibatnya, belasan unit rumah warga dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan berat, sementara infrastruktur jalan di sepanjang pesisir pantai rusak parah dan tak lagi bisa dilalui kendaraan.







