
MATARAM (KabarBerita) – Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Lalu Hamzi Fikri Menyampaikan jika tidak meratanya imunisasi dan tidak lengkapnya harus diwaspadai, hal ini bisa beresiko mengakibatkan cacar dan hingga menimbulkan kematian.
“Jadi ini yang harus diwaspadai status imunisasi yang tidak merata dan tidak lengkap,” ujarnya kepada media di area Kantor Gubernur, Pada Senin (04/05/2026).
Lebih lanjut dikatakannya bahwa Hal ini bisa mengakibatkan dampak buruk dan bisa beresiko tinggi hingga menyebabkan kematian, bila tidak diikuti sesuai dengan ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Pihak terkait.
“Itu sebenarnya yang terjadi di Bima, karena tidak merata, ada juga sebagian kecil yang menolak untuk imunisasi, dan kebetulan yang meninggal itu status imunisasinya tidak ada,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan dampak lain yang diakibatkan jika seseorang tidak mendapat imunisasi adalah lebih rentan terkena campak dan bisa menularkan ke lingkungan orang tersebut berada terutama anak-anak.
” Tapi anak yang sudah diimunisasi tingkat penyakitnya biasanya tidak parah karena sudah dapat proteksi dari imunisasi,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan jika ada kasus yang terjadi dimana anak yang dirawat dan belum mendapatkan imunisasi lebih rentan terpapar oleh pasien lain yang dirawat bersamaan.
“Dari diagnosa awal, ada pneumonia tapi ada paparan campaknya, makin parah kondisinya, dan status imunisasinya zero disitu,” ucapnya.
Ia juga menegaskan jika status Kejadian Luar Biasa (KLB) yang pernah dikeluarkan karena ada campak di Kabupaten Bima, Kota Bima dan Dompu telah ditarik mengingat saat ini telah lebih dari lima puluh persen telah menerima imunisasi.
“KLB sudah kita tidak perpanjang lagi, kan KLB nya hanya satu bulan karena penurunan kasus,” katanya.
Lalu Fikri sapaanya menambahkan jika Outbreak Response Immunization (ORI) yang merupakan imunisasi tambahan massal darurat yang dilakukan cepat saat terjadi KLB penyakit menular seperti difteri atau campak. Masih tetap dijalankan mengingat geograpis wilayah yang luas dan supaya bisa terlayani secara keseluruhan.
“ORI nya tetap jalan yang belum-belum vaksin ini sekarang, karena ORI ini jangkauanya anak-anak yang secara geograpis jauh,” pungkasnya.
Ia juga menyampaikan jika target yang ingin dicapai adalah semua anak yang ada dapat imunisasi, tanpa melihat historisnya yang dulu.
“Jadi target kita semua anak bisa terimunisasi, tanpa melihat status imunisasi sebelumnya,” imbuhnya. (Wira/red).








