
MATARAM (KabarBerita) – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji (Kakanwil Kemenhaj) NTB, L. Muhamad Amin mengungkapkan bahwa Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Lombok akan memberangkatkan 5.798 Calon Jamaah Haji (CJH) yang terbagi menjadi 15 Kelompok Terbang (Keloter).
“Jadi dapat kami sampaikan secara keseluruhan memang jumlah jemaah kita yang akan diberangkatakan berdasarkan kuota dari Nusa Tenggra Barat itu sebanyak 5.798, kemudian nanti itu juga ada tambahan petugas sebanyak 80,”ungkapnya di Media Center Haji Area Asrama Haji saat pres rilis, Senin (20/4/2026).
Lebih lanjut, Amin sapaannya mengatakan jika Kelompok Terbang (Kloter) I yang akan diberangkatkan perdana adalah CJH asal Kabupaten Lombok Timur, dengan total 387 jamaah yang rencananya akan tiba pada Selasa (21/04) besok di Asrama Haji. Dan diberangkatkan pada Rabu (22/04/2026). “Kloter pertama dari Lombok Timur jumlahnya 387 jamaah,”katanya.
Dikatakannya juga bahwa jamaah dengan kuota lansia masih menjadi prioritas karena sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Namun kategori lansia ini mulai dari usia 65 tahun, tapi tidak semua diatas 65 tahun itu pun kondisinya kurang sehat .
“Memang diprioritaskan untuk kuota lansia, itu berdasarkan ketentuan itu sebanyak 190 jamaah,” ucapnya.
Lebih jauh M. Amin mengatakan bahwa untuk pemberangkatan haji ditahun 2026 ini, memang rata-rata diatas 65 tahun, karena itu sesuai dengan porsi yang didapatkan dan sesuai dengan waktu pendaftaran. “Secara rata-rata bahwa usia yang akan berangkat di tahun 2026 ini secara umum 65 ke atas,” ungkapnya.
Meskipun usia diatas 65 tahun keatas dan lansia, pihaknya mengkui bahwa pelayanan menjadi prioritas utamanya, karena sesuai dengan apa yang menjadi niatan awal dalam pelaksanaan dan sesuai dengan tema yang digaungkan kemenhaj NTB tersebut.
“Karena kami di Kementerian Haji dan Umrah ini sudah sangat jelas tema yang ditayangkan itu adalah ramah lansia kemudian disabilitas dan perempuan,” jelasnya.
Selain itu ia juga menjelaskan terkait banyaknya jamah dengan posisi resiko tinggi (Risti) tidak menjadi hambatan karena semuanya sudah masuk dalam menajemen tersendiri dan sudah masuk dalam perhitungan seksama dalam pelaksanaan ibadah di tanah suci.
“Tentu akan ada pelayanan yang skala proiritas, jadi pembagian dipetakan mana yang lansia mana yang risiko tinggi (risti) mana yang disabilitas sehingga pelayanannya pun secara khusus dibedakan,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan skema yang akan digunakan akan diterapkan dimulai semenjak CJH masuk di Asrama Haji, dan sudah ada pemetaan yang terperinci yang akan disiapkan.
“Kemudian juga dalam pembagian makanan atau konsumsi segala macam semua akan didahulukan untuk prioritas lansia termasuk yang menggunakan kursi roda,” pungkasnya. (Wira/red).





