
Mataram(KabarBerita)– Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Dexlite mulai berdampak serius terhadap operasional pengelolaan sampah di Kota Mataram. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram memperkirakan anggaran BBM yang tersedia saat ini hanya mampu menopang kegiatan operasional hingga pertengahan November 2026.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, mengungkapkan bahwa lonjakan harga Dexlite sejak April 2024 menjadi faktor utama yang menekan anggaran operasional dinas. Harga Dexlite yang sebelumnya berada di kisaran Rp14.200 per liter meningkat hingga sekitar Rp24 ribu per liter, atau naik hampir 85 persen.
Dengan kondisi tersebut, kata Nizar, DLH Kota Mataram telah menyiapkan langkah antisipasi dengan mengusulkan tambahan anggaran dalam Perubahan APBD 2026.
“Dengan kondisi kenaikan harga Dexlite seperti sekarang ini, alokasi anggaran BBM untuk operasional penanganan sampah kemungkinan hanya bisa bertahan sampai pertengahan November. Karena itu, di anggaran perubahan APBD 2026 nanti akan diajukan penambahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan jajaran Pemerintah Kota Mataram, termasuk Sekretaris Daerah dan Asisten, terkait kebutuhan tambahan anggaran tersebut. Jika harga Dexlite tetap bertahan pada posisi saat ini, maka penambahan anggaran menjadi langkah yang tidak dapat dihindari.
DLH Kota Mataram memperkirakan tambahan anggaran yang dibutuhkan mencapai sekitar Rp1,4 miliar. Sebelumnya, total anggaran BBM yang dialokasikan setiap tahun berkisar antara Rp9 miliar hingga Rp10 miliar.
Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung berbagai kegiatan operasional, tidak hanya pengangkutan sampah, tetapi juga perawatan ruang terbuka hijau (RTH), penyiraman taman, hingga operasional penebangan pohon yang menggunakan kendaraan berbahan bakar.
“Secara keseluruhan anggaran BBM kita sekitar Rp10 miliar. Dari hasil telaahan kami, kebutuhan itu kemungkinan akan naik menjadi sekitar Rp11,4 miliar. Kita tetap melihat perkembangan harga ke depan. Kalau memang bisa turun, tentu akan sangat membantu,” jelasnya.
Nizar menegaskan, penghematan pada sektor operasional persampahan bukanlah pilihan yang realistis. Ritase pengangkutan sampah sudah ditetapkan sesuai kebutuhan pelayanan kepada masyarakat, sehingga pengurangan operasional justru berisiko menimbulkan penumpukan sampah di sejumlah titik.
“Tidak bisa kita hemat di operasional seperti ini, karena ritase pengangkutan sudah jelas. Kalau dipaksakan berhemat, nanti sampah bisa menumpuk di titik-titik tertentu. Itu yang ingin kita hindari,” tegasnya.
DLH Kota Mataram berharap harga BBM dapat kembali stabil sehingga tidak semakin membebani anggaran daerah. Namun jika harga tetap berada pada level saat ini, penambahan anggaran dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan layanan kebersihan di Kota Mataram tetap berjalan optimal.





