
Mataram(KabarBerita)— Di tengah arus modernisasi dan semakin jarangnya prosesi adat digelar secara utuh, pasangan pengantin Aria Sultan Madani dan Rosa Ninty Oktamadila menghadirkan pemandangan berbeda di Kota Mataram. Keduanya memilih mempertahankan tradisi adat Sasak melalui prosesi nyongkolan yang berlangsung khidmat, tertata, namun tetap semarak.
Prosesi adat yang digelar usai akad nikah itu menyita perhatian warga di sepanjang Jalan Udayana hingga kawasan Hotel Prime Park Mataram. Tidak hanya karena kemeriahannya, tetapi juga karena pelaksanaannya yang tertib tanpa menimbulkan kemacetan maupun mengganggu arus lalu lintas.
Rombongan pengantin berjalan rapi diiringi alunan musik tradisional khas Lombok. Tabuhan gendang beleq berpadu dengan gamelan tradisional menghadirkan suasana sakral sekaligus hangat. Di tengah iring-iringan, Sultan dan Rosa tampil anggun bak raja dan permaisuri, menyapa warga yang antusias menyaksikan prosesi budaya tersebut.
Pasangan muda itu menjalani seluruh rangkaian adat mulai dari akad nikah, sorong serah aji krama hingga resepsi yang dipusatkan di Hotel Prime Park, Sabtu (16/5). Meski tinggal di kawasan perkotaan, keduanya memilih tidak meninggalkan akar budaya Sasak yang diwariskan turun-temurun.
Nuansa tradisi juga tampak dari mahar pernikahan yang disiapkan mempelai pria, yakni 16 gram logam mulia, lima gram perhiasan emas serta 26 lot saham BSI yang menjadi simbol ikhtiar membangun masa depan rumah tangga.
Ratusan kerabat, kolega hingga tokoh budaya turut hadir menyaksikan prosesi tersebut. Para muda-mudi mengenakan busana adat Sasak berjalan beriringan mengikuti rombongan pengantin dengan tertib di bawah arahan tokoh adat.
Salah seorang budayawan Kota Mataram, Suhirman Andita, menilai prosesi nyongkolan yang digelar pasangan Sultan dan Rosa menjadi contoh bagaimana tradisi tetap bisa hidup berdampingan dengan kehidupan modern.
“Nyongkolan bukan sekadar arak-arakan biasa. Ini adalah simbol penghormatan terhadap adat dan bentuk komitmen menjaga budaya Sasak yang mulai tergerus zaman,” ujarnya.
Menurutnya, prosesi nyongkolan memiliki makna mendalam bagi masyarakat Sasak. Tradisi itu menjadi simbol rasa syukur atas berlangsungnya akad nikah sekaligus sarana memperkenalkan pasangan pengantin kepada masyarakat luas.
Lebih dari itu, nyongkolan juga menjadi ruang mempererat hubungan kekeluargaan dan gotong royong antarwarga. Seluruh elemen keluarga hingga masyarakat sekitar terlibat dalam mempersiapkan dan menyukseskan prosesi adat tersebut.
“Di tengah perkembangan zaman, pasangan muda seperti Sultan dan Rosa menunjukkan bahwa budaya tidak harus ditinggalkan. Tradisi bisa tetap dijaga dengan pelaksanaan yang tertib, elegan dan menyesuaikan kondisi kota,” katanya.
Di sepanjang prosesi, warga tampak antusias menyaksikan iring-iringan budaya itu. Banyak yang mengabadikan momen ketika rombongan pengantin melintas dengan balutan pakaian adat khas Sasak dan iringan musik tradisional yang menggema di kawasan Udayana.
Bagi masyarakat Sasak, nyongkolan bukan sekadar pesta pernikahan. Tradisi ini merupakan bagian penting dari identitas budaya yang diwariskan selama berabad-abad. Filosofi kebersamaan, penghormatan terhadap keluarga besar, hingga nilai silaturahmi menjadi ruh utama dalam setiap langkah arak-arakan pengantin.
Di tengah perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan, prosesi nyongkolan Sultan dan Rosa seolah menjadi pengingat bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat istimewa di hati generasi muda. Tradisi lama tidak harus hilang oleh zaman, melainkan bisa terus hidup dengan cara yang lebih tertib, ramah dan membanggakan.






