
Oleh: Nasri Boedjana
Nusa Tenggara Barat (NTB) bukan lagi provinsi yang hanya dikenal karena keindahan Gunung Rinjani, Gunung Tambora, eksotisme tiga Gili (Tramena), Pantai Lariti, Lakey Beach, hingga Pantai Kuta Mandalika. Kini, NTB tengah menapaki jalur transformasi sebagai episentrum baru olahraga nasional.
Terletak strategis di antara provinsi maju seperti Bali dan provinsi berkembang seperti NTT, NTB memainkan perannya sebagai penghubung kemajuan. Dan tak bisa dimungkiri: peran itu kini mulai diakui secara nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, NTB perlahan menjadi primadona baru. Tak hanya bagi wisatawan, tapi juga investor, akademisi, hingga komunitas olahraga. Di tengah geliat pembangunan infrastruktur dan pariwisata, satu sektor yang mencuri perhatian adalah olahraga—baik yang bersifat rekreasi maupun prestasi.
Dan ini bukan klaim kosong, melainkan fakta yang terbukti dengan dua penunjukan besar: tuan rumah Festival Olahraga Rekreasi Nasional (FORNAS) VIII 2025 dan Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII Nusra 2028.
Dua Agenda, Dua Arah, Satu Tujuan
Event FORNAS VIII 2025 bukan sekadar ajang seremonial. Ini adalah pengakuan nasional bahwa NTB punya kapasitas sosial dan kultural untuk menjadi tuan rumah olahraga rekreasi tingkat nasional.
Sekitar 15.000 peserta dari seluruh provinsi, membawa serta 74 induk organisasi olahraga masyarakat (Inorga), akan tumpah ruah di Kota Mataram dan sekitarnya. Gelombang ini jelas membawa efek domino: hotel penuh, restoran ramai, transportasi hidup, dan UMKM menggeliat.
Namun, Fornas hanyalah pembuka jalan.
Tiga tahun kemudian, NTB akan kembali “digempur” oleh event olahraga prestasi: PON XXII Nusra 2028, bersama provinsi tetangga NTT. Event ini jauh lebih kompleks. Di sini, ukuran bukan hanya partisipasi, tapi pencapaian. Ada 45 cabang olahraga yang akan dipertandingkan. NTB kebagian 25 cabor, sisanya digelar di NTT. Ini bukan lagi ajang rekreasi, tapi kompetisi nasional yang penuh gengsi.
Multiplier Effect: Tidak Sekadar Ekonomi
Kedua event ini jelas akan memberi efek ekonomi yang masif. Tapi efeknya tidak berhenti di sana. Ini soal pembangunan ekosistem: membangun fasilitas olahraga yang berkelanjutan, menggerakkan industri kreatif lokal, menciptakan peluang kerja, dan memperkuat identitas daerah.
Bahkan lebih dari itu, ini soal bagaimana NTB menunjukkan kepada dunia bahwa provinsi di timur Indonesia juga bisa menjadi pusat kemajuan.
Namun penting dicatat, kesuksesan dua event ini tidak akan datang dengan sendirinya. Dibutuhkan sinergi lintas sektor: pemerintah, swasta, media, komunitas, hingga warga lokal.
Ini bukan hanya soal penyediaan venue atau kesiapan atlet, tapi juga soal manajemen sosial—bagaimana masyarakat disiapkan menyambut tamu, menjaga citra daerah, dan merawat warisan pasca-event.
Tantangan dan Harapan
Kita harus realistis. Makin besar event, makin besar pula risiko dan tantangan. Anggaran bisa bocor jika tidak diawasi. Infrastruktur bisa jadi mangkrak pasca-event jika tidak dirancang jangka panjang. Bahkan, jika tidak dikelola dengan baik, semangat lokal bisa berubah jadi beban sosial.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTB harus “pasang badan” lebih kuat. Tak cukup hanya bangga ditunjuk, tapi harus siap bertanggung jawab dari hulu ke hilir. Mulai dari perencanaan yang transparan, pelibatan masyarakat secara aktif, hingga pengawasan yang ketat selama proses berlangsung.
Menjemput Era Emas NTB
NTB sedang berada di persimpangan sejarah. Gempuran dua event besar ini bukan beban, tapi peluang emas untuk melompat lebih tinggi. Jika dikelola dengan tepat, NTB bukan hanya akan dikenang sebagai tuan rumah dua event olahraga nasional, tapi sebagai contoh sukses daerah yang mampu mentransformasikan olahraga menjadi motor pembangunan daerah. (*)








