
Mataram, (KabarBerita) – Dinamika yang terjadi pada tubuh DPW PPP NTB belakangan ini diharapkan tidak diperbesar-besarkan. Apalagi DPP PPP kubu Mardiono dan Agus Suparmanto sudah terjadi islah. Islah tersebut menandakan PPP saat ini telah bersatu menyongsong kontestasi politik mendatang.
“Dengan islah itu tidak ada lagi kubu-kubu an. PPP sekarang bersatu mempersiapkan diri menyambut Pemilu 2029,” tegas Sekwil DPW PPP NTB, Moh Akri di Mataram Selasa (07/10).
Dikatakan Moh. Akri salah satu kesepakatan dalam islah DPP tersebut selama enam bulan DPW maupun DPC tidak diperbolehkan mengambil langkah politik apa pun di daerah. Sebab PPP tetap mengacu pada Peraturan Organisasi (PO) DPP PPP.
Moh Akri juga tidak ingin menanggapi apa yang pernah disampaikan Ketua DPW PPP NTB, H. Muzihir baru -baru ini. Meski ancaman keras mengarah kepada dirinya. Bagi Akri semua itu proses politik yang sudah biasa terjadi ditubuh PPP.
“Saya anggap itu bagian dari dinamika politik. Sah sah saja pak ketua berkomentar demikian, mengancam, hendak memecat dan lain lain. Barangkali pak ketua lagi pusing banyak kerjaan. Jadi saya tidak ingin menanggapi beliau,” ujar Akri.
Menurut Akri tidak ada lagi kubu-kubuan di daerah. Saat ini semua pihak dalam posisi merangkul bukan memukul. Justru, lanjutnya jika tetap memukul itu semua bisa merusak konsentrasi politik kedepan. Jangan sampai PPP dianggap kerdil bahkan misi besar memenangkan Pemilu akan terkuras habis lantaran saling singgung satu sama lain.
“Pemimpin itu semestinya merangkul. Bukan memukul. Mari sama-sama kita bersatu,” kata Akri.
Ketua Komisi I DPRD NTB itu mengimbau kader dibawah untuk kembali melakukan kerja-kerja politik. Islah DPP menandakan semua dinamika sudah selesai. Kader diharapkan fokus bekerja untuk rakyat.
“Prinsip kita sama-sama merangkul satu sama lain. Tentunya kita tidak dalam rangka saling memukul tanda kutip,” ulasnya.
“Enam bulan kedepan kita fokus kerja. Sambil nunggu intruksi DPP,” sambungnya.
Kerja-kerja politik untuk 2029 tidak lah ringan. Tahun depan merupakan ajang konsolidasi. Tahun 2027 dilanjutkan agenda verifikasi. Baru di tahun 2028 kader dituntut untuk melakukan kerja-kerja elektoral. Dengan timeline tersebut menjadi alasan penting DPP mengapa kisruh Muktamar XI itu tidak diperpanjang-panjang lagi.
“Nah kita di daerah pun demikian. Sebaikanya menyiapkan kerja-kerja politik,” ujarnya.
“Kader ini salah satu pekerja elekrotal.
Dinamika yang ada kita sikapi dewasa saja. Bahwa ini dinamika dan terjadi juga di tingkat pusat. Sekarang sudah selesai. Tidak ada lagi intrik-intrik, pemecatan apalagi PAW yang disuarakan di daerah,” sambungnya.
Akri kembali menegaskan pesan penting islah DPP. Semua kader tidak ada yang saling memukul. Kedua, tidak ada Muswil dan Muscab enam bulan kedepan di NTB.
Disinggung hubungannya dengan Mizihir, Akri tidak ingin membesar-besarkan. Katanya biarkan proses berjalan. Nantinya semua kondisi pasti selesai.
“Dinamika saat ini ndak perlu direpson. Biarin saja. Nanti mencair dengan sendirinya. Semua akan selesai,” pungkasnya.
Diketahui hasil Islah DPP PPP sebagai berikut;
Ketua Umum : M Mardiono
Waketum. : Agus Suparmanto
Sekjen. : KH Taj Yasin Maimun
Wasekjen. : Jabar Idris
Bendara Umum : Imam Faozan AU
Wabendum. : Rusman Yakub.







