
Mataram(KabarBerita)– Persediaan kedelai impor di Kota Mataram untuk memenuhi kebutuhan para perajin tahu dan tempe dipastikan masih dalam kondisi aman. Meski terjadi kenaikan harga dalam sepekan terakhir, lonjakan tersebut dinilai masih terkendali dan belum mengganggu pasokan di tingkat distributor.
Kepala Bidang Barang Pokok dan Penting Dinas Perdagangan Kota Mataram, Sri Wahyunida, mengatakan harga kedelai impor saat ini masih berada pada level yang relatif stabil dibandingkan lonjakan pada beberapa tahun lalu.
“Masih aman walaupun ada kenaikan. Tapi kenaikannya tidak seperti tahun 2022 yang sempat di kisaran Rp13.000 per kilogram. Tahun 2026 ini masih di tingkat distributor sekitar Rp10.800 per kilogram. Kenaikannya tidak terlalu tinggi, bahkan di Amerika harga kedelai justru turun. Informasi ini kami dapat dari para distributor kedelai impor di Kota Mataram,” ujarnya, Rabu (25/4), saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah gudang kedelai impor di Kota Mataram.
Kenaikan harga kedelai yang terjadi dalam beberapa hari terakhir, menurutnya, bukan dipicu faktor lokal semata. Dinamika global menjadi penyebab utama, terutama adanya gangguan distribusi kedelai impor dari Amerika Serikat yang terdampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Untuk memastikan kondisi tetap terkendali, Dinas Perdagangan Kota Mataram melakukan pemantauan langsung ke distributor utama, termasuk di gudang PT Negarasakah Perkasa di wilayah Cakranegara. Pemantauan dilakukan menyusul adanya kenaikan harga di sejumlah pasar tradisional.
Meski terjadi kenaikan, stok kedelai impor di tingkat distributor dinilai masih cukup aman. Saat ini, ketersediaan kedelai tercatat mencapai sekitar 300 ton, jumlah yang dianggap masih mampu memenuhi kebutuhan produksi perajin tahu dan tempe dalam waktu dekat.
“Memang ada kenaikan harga, tetapi tidak terlalu signifikan dan stok masih aman,” tegasnya.
Sri Wahyunida juga menjelaskan bahwa kenaikan harga di tingkat pengecer tidak hanya dipengaruhi harga dasar dari distributor. Proses lanjutan seperti pembersihan dan pengemasan oleh pedagang turut memengaruhi harga jual di pasar.
“Misalnya agen di Pasar Induk Mandalika mengambil dari distributor, setelah dibersihkan tentu harganya menjadi lebih tinggi,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Mataram, Irawan Aprianto, mengingatkan agar pemerintah terus mengawasi pergerakan harga dan ketersediaan stok kedelai, mengingat komoditas tersebut sangat vital bagi para perajin tahu dan tempe.
“Kita harapkan jangan sampai kenaikan ini memicu perajin tahu dan tempe menjerit, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang masih sulit saat ini. Kami minta Dinas Perdagangan terus memantau distributor agar tidak melakukan kenaikan di luar harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kenaikan harga kedelai impor bukanlah fenomena baru karena hampir terjadi setiap tahun. Oleh sebab itu, pemerintah diminta tidak hanya bersikap reaktif terhadap kenaikan harga, tetapi juga menyiapkan langkah antisipatif jangka panjang.
Salah satu langkah strategis yang dinilai penting adalah mendorong peningkatan produksi kedelai lokal. Pasalnya, hingga saat ini pasokan kedelai dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan pengusaha tahu dan tempe, sehingga ketergantungan pada kedelai impor masih cukup tinggi.






