Fraksi PKS Soroti Tantangan RPJMD Kota Mataram: Data Tidak Sinkron, Proyek Mubazir, dan Ancaman Sosial

Mataram(KabarBerita) — Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kota Mataram memberi peringatan keras agar Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 tidak sekadar menjadi tumpukan kertas penuh janji, tetapi benar-benar menjadi panduan pembangunan yang menyentuh kebutuhan riil warga.

Dalam rapat paripurna penyampaian pemandangan umum Fraksi atas Raperda RPJMD, Kamis (7/8), juru bicara Fraksi PKS, HM. Nurul Ichsan, menegaskan bahwa transformasi sosial inklusif, penguatan ekonomi lokal, pemerataan infrastruktur, dan tata kelola pemerintahan yang transparan harus menjadi roh pembangunan Mataram lima tahun ke depan.

Namun, di balik capaian yang kerap digembar-gemborkan, PKS menemukan sederet masalah serius yang berpotensi menggagalkan visi besar RPJMD.

Kemiskinan dan Pengangguran: Data Tak Sinkron, Solusi Tak Konkret

Meskipun angka kemiskinan menurun, sekitar 42.500 jiwa atau 8% warga Mataram masih hidup di bawah garis kemiskinan. Bahkan, 807 jiwa masuk kategori kemiskinan ekstrem. “Ini menunjukkan data antarinstansi belum sinkron. Tanpa data akurat, kebijakan akan meleset sasaran,” tegas Ichsan.

Tingkat pengangguran terbuka pada 2023 masih mencapai 10.550 orang. Kondisi ini dinilai rawan memicu gejala sosial di kelompok rentan. “Kita tidak bisa bicara pembangunan kalau pengangguran dan kemiskinan ekstrem masih bercokol,” tambahnya.

Ancaman Kesehatan dan Sosial: Stunting Turun, DBD dan Narkoba Mengancam

Walau stunting turun menjadi 7,78% pada 2024, kasus demam berdarah tetap tinggi. Lebih mengkhawatirkan lagi, Badan Narkotika Nasional menetapkan Mataram sebagai “kota tanggap darurat narkoba”. Menurut PKS, ini sinyal kuat bahwa ketahanan sosial kota masih rapuh.

Ekonomi Rapuh: Bergantung pada Sektor Lama, UMKM Stagnan

PKS menilai struktur ekonomi Mataram belum kokoh karena terlalu bergantung pada perdagangan, jasa keuangan, dan industri pengolahan. UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat justru stagnan.

Meski inflasi berhasil ditekan hingga 1,9% dan pertumbuhan ekonomi menyentuh 4,7% pada 2024, kesenjangan ekonomi tetap lebar. Rasio Gini berada di angka 0,393. “Tanpa keberpihakan nyata pada sektor produktif rakyat, pertumbuhan ini hanya dinikmati segelintir kelompok,” sindir Ichsan.

Banjir Tahunan dan Proyek yang Mubazir

Masalah banjir disebut sebagai “agenda tahunan” Pemkot yang tak kunjung terselesaikan, terutama di Babakan, Mapak, dan wilayah pesisir Ampenan yang juga dilanda banjir rob. Banjir besar Juli 2025 bahkan merendam enam kecamatan dan memaksa ratusan warga mengungsi.

PKS juga menuding sejumlah proyek infrastruktur tidak efisien. “Penataan trotoar dan taman kota diulang tanpa urgensi. Ini kesan pemborosan anggaran dan lemahnya prioritas pembangunan,” ujar Ichsan.

Layanan Publik Perlu Pembenahan,PAD Rawan Bocor

Meskipun skor pelayanan publik dari Ombudsman RI mencapai 82,88 dan indeks reformasi birokrasi berada di angka 80,11, kebocoran Pendapatan Asli Daerah dari sektor parkir dan retribusi masih menjadi penyakit lama. Kenaikan tarif parkir hingga 100% pada 2023 justru memicu kemarahan publik karena sistem setoran masih manual dan rawan kebocoran.

Pendidikan dan Aduan Publik: Sistem Ada, Respons Lemah

Sistem zonasi PPDB dinilai menciptakan masalah baru: sekolah favorit kelebihan murid, sementara sekolah lain kekurangan. “Orang tua kebingungan, anak-anak jadi korban sistem yang timpang,” tegas Ichsan.

Partisipasi publik melalui kanal aduan memang mulai tumbuh, namun Pemkot dianggap lamban dan tidak konsisten merespons. “Kalau aspirasi hanya masuk tanpa tindak lanjut, itu sama saja menutup telinga,” kritiknya.

Fraksi PKS menegaskan bahwa RPJMD harus menjadi arah pembangunan yang berpihak pada rakyat, bukan formalitas tahunan. Sinergi lintas sektor dan wilayah menjadi kunci untuk menjadikan Mataram kota yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.

  • Related Posts

    Khawatir Kebocoran Data, Aktivasi IKD di Mataram Terkendala Kepercayaan Publik

    Mataram(KabarBerita)– Kekhawatiran masyarakat terhadap kejahatan siber masih menjadi hambatan utama dalam percepatan aktivasi Identitas Kependudukan Digital (IKD) di Kota Mataram. Meski pemerintah terus mengembangkan sistem keamanan, keraguan warga terhadap potensi…

    Sari Yuliati Salurkan 10 Ribu Lebih Beasiswa PIP di Lombok, Wujud Nyata Dukungan Pendidikan

    ‎Mataram(KabarBerita)– Komitmen mendorong kemajuan pendidikan di Nusa Tenggara Barat kembali ditunjukkan Wakil Ketua DPR RI, Hj. Sari Yuliati. Politisi Partai Golkar ini kembali menyalurkan bantuan beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP)…

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    You Missed

    Ditolak Masuk Arab Saudi, Satu Calon Jamaah Haji Asal Kota Mataram Dipulangkan, Ini Penyebabnya

    Ditolak Masuk Arab Saudi, Satu Calon Jamaah Haji Asal Kota Mataram Dipulangkan, Ini Penyebabnya

    Bidik Hasil Terbaik, Pebalap Andalan Indonesia Sean Gelael Tampil Cukup Bagus Disesi Latihan di Kelas Silver GTWCA Mandalika

    Bidik Hasil Terbaik, Pebalap Andalan Indonesia Sean Gelael Tampil Cukup Bagus Disesi Latihan di Kelas Silver GTWCA Mandalika

    Akhiri Konflik PPP, Marga Harun; 2029 PPP Harus Kembali ke Parlemen

    Akhiri Konflik PPP, Marga Harun; 2029 PPP Harus Kembali ke Parlemen

    JMSI NTB Gelar Media Gathering di Mandalika dan Silaturahim Strategis dengan Manajemen ITDC

    JMSI NTB Gelar Media Gathering di Mandalika dan Silaturahim Strategis dengan Manajemen ITDC

    DPRD NTB Tinjau Jembatan Bayan–Loloan yang Terputus, Sudirsah Dorong Penanganan Segera

    DPRD NTB Tinjau Jembatan Bayan–Loloan yang Terputus, Sudirsah Dorong Penanganan Segera

    Didi Sumardi Kritik Keras Upah PPPK di NTB, Sebut Pemerintah Gagal Jadi Contoh

    Didi Sumardi Kritik Keras Upah PPPK di NTB, Sebut Pemerintah Gagal Jadi Contoh