
_“Salah satu cara untuk melihat seorang anggota dewan itu berhasil dan dipercaya oleh masyarakat adalah jika sang anggota dewan di setiap pemilu mendapatkan jumlah suara yang terus meningkat di dapil yang sama.”_
Di panggung politik yang kerap kali penuh intrik dan kejutan, muncul satu nama dari Lombok Tengah yang justru membuktikan bahwa jalan sunyi, yang ditempuh dengan konsistensi, kerja nyata, dan keikhlasan, bisa mengantarkan seseorang menduduki posisi strategis tanpa kegaduhan. Nama itu adalah Lalu Wirajaya, politisi Partai Gerindra, yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk periode 2024–2029.
Namun bagi masyarakat Lombok Tengah, khususnya Dapil VII, nama “Bang Je”, sapaan akrabnya bukanlah figur baru. Ia adalah wajah yang sudah akrab di warung kopi, di masjid-masjid desa, di panggung musyawarah pemuda, bahkan di antrean konter pulsa tempat dulu ia memulai usahanya. Sebelum mengenakan jas partai, Lalu Wirajaya mengenakan rompi kasir dan memegang kalkulator. Ia bukan anak konglomerat politik. Ia anak desa yang bertarung bukan dengan privilese, melainkan dengan ketekunan.

*Dari Kekalahan yang Menjadi Takdir*
Kisah politik Lalu Wirajaya sesungguhnya dimulai dari sebuah kekalahan. Tahun 2013, ia memberanikan diri maju sebagai calon legislatif dari Partai Gerindra. Restu ibunya pun harus ia raih dengan air mata dan waktu, bukan hanya dengan niat. Namun hasil pemilu berkata lain, ia kalah dari calon yang kini menjadi Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri. Di posisi kedua, ia tidak menyalahkan siapa pun. Tidak menyalahkan sistem, partai, apalagi rakyat. Ia malah kembali membuka konter, menata ulang hidup, dan menyebut kekalahannya sebagai bagian dari “doa yang dikabulkan dengan cara yang lain”.
Takdir seakan menghargai keikhlasannya. Tak lama kemudian, Lalu Pathul Bahri mundur dari kursi DPRD untuk maju di Pilkada. Partai Gerindra, dengan pertimbangan etis dan politik, menunjuk Lalu Wirajaya sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW). Bukan karena lobi, bukan karena dekat dengan elite pusat, tetapi karena ia peraih suara terbanyak kedua. Dengan itulah ia menapaki tangga pertama politik formalnya.
*Fenomena Politik Suara yang Meningkat*
Lalu Wirajaya bukan politisi karbitan yang muncul di billboard jelang kampanye lalu menghilang saat pemilu usai. Dalam tiga kali pencalonannya, ia mencatat fenomena langka, jumlah suaranya terus meningkat secara konsisten di daerah pemilihan yang sama. Dari 14.200 suara, naik menjadi 20.200 suara, dan kini di 2024 meraih 35.910 suara, tertinggi kedua dari seluruh anggota DPRD NTB.
Ini bukan sekadar statistik elektoral. Ini adalah bukti cinta. Sebab, di tengah apatisme politik, hanya politisi yang membumi dan berbuat yang akan terus dikenang dan dipilih. Ia tidak hanya menang suara, tapi juga memenangkan hati.
*Antara Je Celuler dan Je Komitmen*
Ada satu hal yang tidak berubah dari Lalu Wirajaya keterikatan batinnya dengan rakyat kecil. Ia sering menyebut bahwa “politik itu bukan soal jabatan, tapi soal kebermanfaatan.” Sebagai legislator, ia tidak segan turun langsung menyerap aspirasi, memastikan program pokok pikiran (pokir) masuk ke desa-desa terluar, dan menjaga agar janji tidak hanya berhenti di baliho.
Je Celuler, konter HP yang dulu jadi saksi awal perjuangannya, kini telah menjelma menjadi simbol bahwa perjuangan bisa dimulai dari tempat yang sederhana. Tapi Je Celuler hanyalah alat. Yang utama adalah Je Komitmen, komitmen untuk melayani dan menjaga kepercayaan.
*Politik Tanpa Gimik*
Di usia 33 tahun, ia menjadi pimpinan DPRD termuda. Namun, ia tidak pernah menjadikan usia sebagai alasan untuk tampil mencolok. Tak ada gimik. Tak ada drama. Yang ada adalah konsistensi.
Penunjukan dirinya sebagai Wakil Ketua DPRD oleh DPP Partai Gerindra bukan sekadar penghargaan personal, tetapi juga pengakuan atas sistem kaderisasi partai yang menemukan figur lokal yang bekerja, bukan hanya berbicara. Ia adalah bukti bahwa politik bisa dilakukan tanpa harus meninggalkan prinsip, apalagi rakyat.
*Menjadi Simbol Harapan Baru*
Di tengah krisis kepercayaan terhadap banyak institusi politik, sosok seperti Lalu Wirajaya hadir bak oase. Ia menjadi narasi tandingan dari gambaran buruk politisi yang hanya mengejar jabatan. Perjalanan hidupnya, dari konter pulsa ke kursi dewan, menyampaikan satu pesan kuat: *bahwa politik adalah tempat yang sah untuk orang-orang baik memperjuangkan kebaikan.*
Ia tidak sempurna. Ia tidak besar karena pencitraan. Ia besar karena perjalanan, dan karena tidak pernah berhenti pulang ke hati rakyat.
Jika politik adalah cermin dari harapan rakyat, maka Lalu Wirajaya adalah pantulan jernih dari harapan itu sendiri. Dalam ketenangan langkahnya, *kita belajar bahwa kemenangan bukan selalu soal siapa yang paling keras bicara, tetapi siapa yang paling konsisten bekerja.(*)








