
“Jadi saya sangat apresiasi. Ini merupakan hasil kolaborasi, inovasi, dan kerja bersama kita semua. Semoga ini menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kita demi NTB yang makmur mendunia,” kata H. Lalu Wirajaya
Mataram (KabarBerita) — Ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus menunjukkan tren positif. Dibawah kepemimpinan Lalu Muhammad Iqbal – Hj. Indah Dhamayanti Putri (Iqbal-Dinda) pertumbuhan ekonomi NTB pada tahun 2026 berdasarkan data BPS, tumbuh sebesar 13,64% (year-on-year), tertinggi kedua nasional setelah Maluku Utara.
Pertumbuhan itu didorong oleh kuatnya sektor industri pengolahan, peningkatan ekspor, serta produktivitas berbagai sektor unggulan daerah.
Capaian ini juga diiringi dengan penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka menjadi 2,99 persen dan meningkatnya kualitas kerja masyarakat. Ini menjadi bukti bahwa geliat pembangunan daerah semakin dirasakan, membuka lebih banyak peluang kerja, dan memperkuat kesejahteraan masyarakat NTB.
Wakil Ketua I DPRD NTB, H. Lalu Wirajaya mengapresiasi capaian pemprov NTB di tahun kedua pemerintahan Iqbal-Dinda tersebut.
Menurutnya capain itu tak lepas dari kolaborasi, inovasi dan kerjasama semua pihak baik legislatif, eksekutif dan juga para pelaku usaha.
“Jadi saya sangat apresiasi. Ini merupakan hasil kolaborasi, inovasi, dan kerja bersama kita semua. Semoga ini menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi kita demi NTB yang makmur mendunia,” kata H. Lalu Wirajaya kepada kabarberita, Sabtu (9/5).
Dikatakan LWJ, NTB kini tampil sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan baru Indonesia. Bahkan angka tersebut melampaui banyak provinsi besar seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, maupun Sulawesi Selatan.
“Yang menarik, capaian ini bukan sekadar lonjakan sesaat. Dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi NTB menunjukkan tren penguatan yang konsisten. Ini menandakan fondasi ekonomi daerah semakin kuat dan mulai bergerak menuju transformasi ekonomi bernilai tambah,” ujar politisi asal Kabupaten Lombok Tengah itu.
Capaian NTB itu didorong oleh tumbuhnya industri pengolahan hingga 60,25%, terutama dari aktivitas smelter dan hilirisasi tambang, disertai kenaikan sektor pertambangan sebesar 31,80%. Namun demikian, kata LWJ kekuatan NTB tidak hanya bertumpu pada tambang. Pertanian, pariwisata, perdagangan, hingga jasa keuangan juga ikut bergerak positif yang mulai berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
“NTB kini bukan lagi sekadar daerah penyangga pariwisata nasional, tetapi mulai menjelma sebagai salah satu episentrum pertumbuhan ekonomi baru Indonesia timur,” pungkasnya.
Sebelumnya, BPS NTB merilis kinerja ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menunjukkan tren positif dengan lonjakan signifikan pada sektor ekspor, pertumbuhan kunjungan wisatawan, serta inflasi yang tetap terkendali.
BPS mencatat, nilai ekspor NTB pada Maret 2026 mencapai US$ 567,57 juta, atau melonjak hingga 9.162,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif Januari–Maret 2026, ekspor NTB menembus US$ 707,92 juta, meningkat tajam dibandingkan tahun 2025. Lonjakan ini didorong oleh ekspor komoditas unggulan, terutama sektor pertambangan dan industri pengolahan tembaga.
“Peningkatan ekspor ini menjadi indikator kuat bahwa aktivitas ekonomi NTB bergerak sangat progresif, khususnya pada sektor unggulan berbasis sumber daya alam dan hilirisasi industri,” jelas kepala BSP NTB, Wahyudin, Senin (4/5) di Mataram.
Di sektor pariwisata, NTB juga menunjukkan kinerja menggembirakan. Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk melalui Bandara Internasional Lombok pada Maret 2026 tercatat 6.428 orang, meningkat 24,72 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,39 juta orang, tumbuh 34,64 persen secara bulanan. (*)






