
Mataram, (KabarBerita) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Mataram menggelar kegiatan Studium Generale dengan tema “Membangun Karakter Kemandirian Mahasiswa melalui Pendidikan Moral Menuju Masa Depan yang Gemilang” pada Kamis (18/9).
Studium General kali ini menghadirkan Narasumber yang sangat familiar dilayar televisi nasional yaitu KH. Muhammad Cholil Nafis, Lc, MA, Ph.D Ketua Dewan Pengawas Syariah PT. Pegadaian dan juga Ketua Bidang Dakwah MUI pusat dan jajaran Rais Syuriah PBNU.
Turut hadir mendampingi Rektor UIN Mataram Prof. Dr TGH Masnun Tahir sekaligus membuka acara.
Hadir juga Dekan FEBI, Prof. Dr. Riduan Mas’ud, para Dekanat, prodi para dosen,tendik segenap mahasiswa FEBI dan Tim PT. Pegadaian.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Mataram, menyampaikan apresiasi terhadap terselenggaranya kegiatan Studium Generale sebagai bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa.

Prof Masnun menekankan pentingnya mahasiswa tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki moralitas, etika, dan kemandirian sebagai bekal terjun ke masyarakat. Ia mengajak seluruh mahasiswa untuk aktif mengikuti kegiatan akademik dan non-akademik, serta membangun daya pikir kritis dan jiwa kepemimpinan.
Menurutnya, peran mahasiswa sangat strategis dalam menciptakan perubahan positif di tengah masyarakat.
Senada dengan apa yang disampaikan oleh KH. Cholil.Nafis, bahwa ditengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang begitu pesat, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga moral. Mahasiswa sebagai agen perubahan dan generasi penerus bangsa dituntut untuk tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat dalam karakter.
Dalam konteks inilah, pendidikan moral memegang peran yang sangat penting dalam membentuk jati diri mahasiswa agar menjadi pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan berintegritas.
Pendidikan moral bukan sekadar pembelajaran tentang baik dan buruk, melainkan proses internalisasi nilai-nilai luhur yang tertanam dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Melalui pendidikan moral, mahasiswa diajarkan untuk menghargai kejujuran, disiplin, kerja keras, serta mampu bersikap adil dan peduli terhadap sesama. Nilai-nilai inilah yang menjadi pondasi utama dalam membentuk karakter yang tangguh dan mandiri.
Karakter kemandirian tidak muncul secara instan. Ia dibangun melalui pengalaman, keteladanan, dan lingkungan yang mendukung. Di kampus, mahasiswa diberikan ruang untuk mengembangkan potensi diri, berani mengambil keputusan, dan menghadapi konsekuensi dari setiap tindakan. Pendidikan moral hadir untuk membimbing proses tersebut, agar kemandirian yang tumbuh tidak lepas dari nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial.
Lebih dari sekadar pencapaian akademik, pendidikan tinggi harus menjadi sarana pembentukan manusia seutuhnya. Mahasiswa yang berkarakter kuat tidak hanya siap bersaing di dunia kerja, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya mengejar kesuksesan pribadi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, membangun karakter mahasiswa melalui pendidikan moral adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan arah dan masa depan bangsa. Perguruan tinggi, sebagai institusi yang mencetak pemimpin masa depan, harus menjadikan pendidikan moral sebagai bagian integral dari seluruh proses pendidikan. Hanya dengan karakter yang kuat dan nilai moral yang kokoh, mahasiswa dapat menjadi tonggak bagi terwujudnya masyarakat yang adil, bermartabat, dan gemilang. (*)








