
By: M. Zaidi Abdad (PHD Kota Mataram)
Ibadah haji adalah dambaan setiap Muslim. Perjalanan spiritual ke Tanah Suci bukan sekadar rukun Islam kelima, melainkan juga momentum penyucian jiwa dan perjumpaan dengan makna terdalam dari ketundukan kepada Allah SWT. Namun, di balik kemegahan pelaksanaan ibadah haji yang melibatkan jutaan jemaah dari seluruh dunia, tak jarang terselip kisah-kisah memilukan yang mencerminkan ketidakberdayaan sistem yang dibuat manusia dengan ketentuan yang ditetapkan Allah.
Subhanallah, Maha besar Kekuasaan Allah, ibadah yang sebenarnya menjadi perjalanan agung penuh keheningan batin justru ternoda oleh persoalan teknis yang seharusnya dapat diantisipasi. Salah satu kisah memilukan tahun ini dengan kesaksian langsung yang saya lihat, adalah terpisahnya sejumlah jemaah haji dari rombongan aslinya akibat ketidaksinkronan data manifes. Hal ini terjadi karena banyaknya syarikah (perusahaan penyedia layanan di Arab Saudi) yang menangani proses visa dan pengurusan manifes secara terpisah dari sistem yang telah disusun di tanah air. Akibatnya, manifes jemaah yang telah disusun oleh Kementerian Agama di Indonesia tidak sepenuhnya sejalan dengan realitas di lapangan ketika para jemaah tiba di Tanah Suci.
Kondisi ini menyebabkan kekacauan dalam penempatan akomodasi dan koordinasi layanan. Ada suami yang terpisah dari istrinya dan harus tinggal di hotel yang berbeda. Bahkan, tidak sedikit tim kloter (kelompok terbang) yang justru terpisah dari jemaah yang seharusnya mereka dampingi. Lebih jauh lagi, terjadi penyatuan Petugas Haji Daerah (PHD) dari berbagai kabupaten dalam satu hotel tanpa mempertimbangkan keterkaitan mereka dengan jemaah masing-masing, yang seharusnya membutuhkan bimbingan dan pendampingan selama pelaksanaan ibadah.
Fenomena ini mengingatkan kita pada keterbatasan manusia dalam mengatur takdir, sebagaimana kaidah yang menyatakan, “al-insān bil-tafkīr, wa-Allah bil-taqdīr” — manusia dapat merencanakan dengan segenap upaya dan sistem, namun pada akhirnya hanya Allah-lah yang menetapkan. Maka, dalam setiap kekurangan sistem, seyogianya ada kesadaran untuk berbenah, memperbaiki koordinasi, dan menempatkan kepentingan jemaah sebagai prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah haji.
Fenomena terpisahnya jemaah dari rombongan, pasangan dari pasangannya, serta petugas dari jemaah yang seharusnya mereka layani, memang menyisakan kesedihan dan keresahan. Tidak sedikit jemaah yang menangis dalam kelelahan fisik dan tekanan batin karena harus menghadapi realitas yang jauh dari bayangan mereka. Perjalanan yang selama ini dibayangkan indah, tenang, dan teratur, berubah menjadi ujian kesabaran dan penerimaan.
Namun, dalam situasi seperti ini, penting bagi jemaah untuk mengingat bahwa haji adalah perjalanan yang sarat dengan ujian. Justru dalam liku-liku itulah, Allah menguji keikhlasan dan kepasrahan hamba-Nya. Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh akan Kami uji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Kesabaran dalam menghadapi hal-hal yang tak terduga, seperti perpisahan dengan keluarga atau ketidaknyamanan akomodasi, justru menjadi bagian dari pahala yang besar dalam ibadah haji. Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menulis bahwa “sabar dalam ibadah lebih tinggi derajatnya dari sekadar sabar dalam musibah”, karena ia mengandung ketaatan dan ketundukan kepada kehendak Ilahi yang tidak selalu sesuai dengan harapan manusia.
Dalam catatan sejarah, kita mendapati kisah sahabat yang mengalami hal serupa. Suatu ketika, Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad ﷺ, sempat tertinggal dari rombongan saat hendak berhijrah ke Madinah. Ia terpisah dari suaminya, Abu Salamah, dan anaknya. Namun, ia tetap bertawakkal dan bersabar, hingga akhirnya Allah mempertemukannya kembali dengan keluarganya di kota Nabi. Kisah ini tercatat dalam sirah Ibnu Ishaq dan menjadi pelajaran tentang keutamaan sabar dan prasangka baik kepada Allah dalam perjalanan yang diniatkan karena-Nya.
Begitu juga kisah Abdullah bin Mubarak, seorang ulama dan zuhud ternama dari generasi tabi’in, yang ketika menunaikan haji, pernah lebih banyak menghabiskan waktu membantu jemaah yang kelelahan dan kesusahan daripada memperbanyak ibadah pribadi. Ia berkata, “Menolong saudaraku yang kesulitan dalam perjalanan ini lebih aku sukai daripada seratus rakaat shalat sunnah.” Sikap ini mencerminkan bahwa dalam ibadah berjamaah, keberpihakan terhadap sesama dan kerendahan hati jauh lebih utama daripada semata-mata ritual individu.
Oleh karena itu, kepada para jemaah yang mungkin merasa kecewa atau gelisah karena tidak bersama rombongan, berbeda hotel dengan pasangan, atau merasa terabaikan oleh petugas, hendaknya tetap menata hati dan memperbanyak zikir serta doa. Percayalah bahwa semua yang terjadi bukan kebetulan. Allah mengetahui setiap langkah dan niat, dan tidak akan pernah menyia-nyiakan amal orang yang ikhlas.
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka cukuplah Allah baginya.”(QS. At-Thalaq: 2–3)
Dengan kesabaran dan tawakal, semoga setiap langkah jemaah menjadi amal shaleh yang diberkahi. Dan bagi para penyelenggara, semoga ini menjadi pelajaran berharga agar pelayanan ibadah haji di masa mendatang dapat lebih tertata, manusiawi, dan berorientasi pada kemaslahatan jemaah. (ed. 2)Wallahu a’lam.









Semoga para hujan yang mengalami problem tertular manifes diberi kesabaran yang tinggi, tetapi tawakal dengan rencana Allah swt yang sempurna.